Search here...
TOP

About Na!

 

About Na!

Sebagai seorang Dosen Teknik Kimia di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta dan memiliki latar belakang pendidikan di bidang teknologi dan industri tak menyurutkan kecintaannya terhadap dunia menulis yang telah ia miliki sejak kecil. Meski sempat vakum menulis beberapa tahun karena kesibukannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus wanita bekerja, namun perkembangan teknologi terutama internet dan sosial media membawanya kembali ke dunia menulis sejak tahun 2007.

Sharing, traveling, capturing moments, writing dan volunteering adalah beberapa kata kunci yang menggambarkan passion seorang Donna Imelda. Tak heran bila dalam kesehariannya, perempuan ini gemar sekali menghadirkan momen-momen istimewa dan inspiratif baik yang didapatkan dari kegiatannya sehari-hari sebagai ibu rumah tangga dan dosen, dari dunia volunteering yang digelutinya, dan dari setiap perjalanannya ke banyak tempat sebagai travel writer dan public speaker. Wanita yang pernah menjadi nominasi 10 besar Srikandi Blogger 2014 Kumpulan Emak-Emak Blogger ini membagikannya dalam bentuk tulisan dan foto yang tersebar di beberapa situs dan media sosial.

Donna Imelda yang pernah diangkat sebagai Perempuan Inspiratif di Majalah Anakku dan Majalah Online Blogger Perempuan ini sangat menyukai kegiatan traveling, baik ke daerah-daerah di Indonesia maupun ke beberapa negara di luar Indonesia. Hal inilah yang menjadi jantung setiap tulisan-tulisannya yang bisa dibaca di situs pribadinya di www.donnaimelda.com atau di travel website miliknya di www.AyoPelesiran.com. Catatan perjalanannya juga menghiasi beberapa media cetak dan majalah online seperti Kalstar In-flight Magazine dan Male Emporium Asia Magazine.

Perjalanan menulis catatan perjalanan telah membawanya menjadi pemenang dalam kompetisi Travel Blogger dunia di ajang Kerala Blog Express 2 World Competition yang diselenggarakan oleh Departemen Pariwisata India. Menjadi satu di antara 30 travel blogger dari 21 negara lainnya, Donna Imelda berhak mewakili Indonesia mengunjungi Kerala di India Selatan selama dua minggu dengan fasilitas akomodasi penuh.

Perempuan yang  memperoleh kemenangan di beberapa blog competition ini juga menjalani pekerjaan di bidang traveling dengan menjadi media partner bagi beberapa dinas pariwisata daerah terutama terkait dengan penyelenggaraan festival-festival wisata dan budaya di Nusantara.

Donna Imelda berbagi pengalaman sebagai narasumber di beberapa seminar atau workshop seputar kegiatannya di bidang pendidikan, travelling dan penulis catatan perjalanan. Dan sebagai wujud kecintaannya ini juga, Donna Imelda bersama sahabat-sahabatnya mendirikan Indonesia Corners yang memiliki visi untuk menjadi situs rujukan tentang Indonesia sambil mengangkat kembali potensi pariwisata Indonesa sebagai daerah tujuan wisata dan budaya.

Lahir di Bandar Lampung, 18 Januari 1973, istri dari Agustinus Ahaddian Ginting dan ibu dari dua gadis remaja Rizka Farah Diba Dianti dan Hanifah Dianti Maharani kini masih bekerja penuh waktu sebagai dosen yang menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi di Jurusan Teknik Kimia, Universitas Jayabaya Jakarta.

Kini kebahagiaannya adalah bisa lebih banyak di rumah bersama keluarga dan anak-anaknya, punya kegiatan yang positif sebagai  volunteer pendidikan dan penulis catatan perjalanan, tanpa harus berhenti membagikan ilmu melalui profesinya sebagai dosen yang sudah dijalaninya sejak tahun 1999.

Salam metamorphjourney!
~donna~

  • Sometimes you just have to jump out the window and grow wings on the way down.
~Ray Badburry~
  • Merindu hidup tanpa sekat....
  • Quote ini klise banget sih tapi tetap jadi favorit aku, katanya gini,
. 
Life is like a camera. Just focus on what's important and capture the good times, develop from the negatives and if things don't work out, just take another shot.”
.
.
 As simple as that.
Yekan?!
  • Ini masa-masa gedumbrangan ketika secara maraton tahap demi tahap menuju sertifikasi dosen. Sudah lewat lama memang tapi spiritnya masih terasa.

Kebayang semua tahapan yang harus dijalani dengan rentang waktu yang pendek. Setiap akhir satu fase diikuti dengan perasaan dag dig dug apakah lolos atau tidak ke tahap selanjutnya.

Semangat pun berevolusi, dari skeptis gak bakal lulus karena  beberapa tahun terakhir saya malah asyik traveling, lalu masuk ke fase semangat menggebu harus lulus dan diakhir fase dengan spirit santuy, "lets do the best and God do the rest" Kalau lolos berarti rezeki, kalau gak lolos ya saya traveling lagi hahaha.

Fase paling sulit ya saat harus mengisi semua butir-butir essay yang jumlahnya puluhan dan harus diisi dengan angka minimal sekian ratus kata.  Yang dipikirin sih bukan hanya jumlah kata di setiap butirnya, tapi gimana merangkainya menjadi kalimat yang kalau para asesor itu membaca, ia yakin bahwa saya layak disertifikasi.

Saya lakukan semua dengan penuh apa adanya, saya menolak ide-ide short cut yg bertentangan dengan nurani saya, (biar enak terima duitnya) bahkan semua penilaian sejawat dan mahasiswa mereka lakukan sendiri, meski saya tahu toh sama saja dengan kalau saya isi sendiri pakai akun mereka, karena mereka juga akan memberikan penilaian yang baik buat saya. Tapi saya mau mereka yang lakukan sendiri.

Saya mengatakan dengan jujur bahwa saya kurang dalam publikasi ilmiah selama periode penilaian. Kegiatan penelitian pun  masih bersama mahasiswa, tapi saya melakukan banyak kegiatan di dunia pendidikan, hanya saja karena melalui volunteering saya tidak memiliki sertifikat apapun untuk membuktikannya. Mungkin mereka melihatnya ini adalah bentuk pengabdian masyarakat, entahlah. Untung saya rajin menulis kegiatan ini di blog pribadi, saya masukkan saja url link di setiap butir yang relate.

Saya tak tahu butir mana yang mengimbangi kelemahan saya di bagian penelitian dan publikasi ilmiah sehingga akhirnya sertifikat pendidik bisa di tangan saya dengan sebaris kalimat mengundang senyum di surat pengantar, LULUS!
  • Semalam ketawa2 sama anak gadis @hanifahdianti karena caption yang saya buat di Ig Story.  Caption  yang sama juga yang membuat @raninovariany ketawa melalui DM reply, dan wacana yang sama yang membuat saya dan @nettyamin ketawa2 lewat whatsapp call.

Emang bener sih, keputusan masuk doctoral program itu semacam gak ada kerjaan, lompat dari  kenyamanan lalu mencemplungkan diri ke dalam masalah alias cari-cari masalah.

Udah bener-bener asik dibayar untuk traveling, moto, nulis, malah milih ngabisin 3 hari weekend di kampus, berpening-pening sampe mual memahami metode riset, diberondong tugas yang bertubi-tubi dengan DL ketat, seketat tali bra. 
Itu belum termasuk melototin jurnal sampe mata dah kayak ikan mas koki supaya bisa menemukan novelty untuk bahan disertasi. Itu aja belum keliatan samsek hilalnya sampai sekarang hahaha. Benar2 menambah masalah hidup.

Tapi... ada tapinya kok. Percayalah, istilah "masalah" itu hanya gaya2an kalau lagi hectic sama tugas kampus. Pastilah ada manfaatnya belajar, pasti ada manfaatnya sekolah lagi. Sekarang aja udah mulai bisa memetik hal-hal kecil karena kesibukan baru itu. Minimal  memetik hikmah, jadi punya pengetahuan baru, punya banyak harapan baru, ide-ide baru yang bakal seru nantinya.

Santai aja soal ngetrip, tanah2 impian itu akan tetap ada di koordinatnya masing-masing, tapi momentum tidak demikian. Ia bergulir meninggalkan saya bila tak bersambut. Bagi saya saat mengambil keputusan sekolah lagi, ini memang adalah waktu yang tepat untuk sekolah. Momentum yang paling pas untuk naik ke tangga berikutnya setelah menunda rencana ini selama 5 tahun. (Iyaaa.... menunda selama itu hehehe)

Pikiran saya sederhana aja sih, traveling can wait. Bisalah sambil kuliah curi2 waktu untuk short trip atau traveling saat end year trip yang liburnya agak panjangan. Soal rezeki mah insya Allah ada aja dari pintu lain. Salah satu hikmahnya ya mungkin ini, saat semua harus freezing karena Covid-19, dan banyak rencana yang harus di-reset, saya merasa sudah on the right track meski #diRumahAja. Semoga fit in ya dengan rencana Allah.

So... mari kita selesaikan apa yang sudah kita mulai.
  • Bila Rindu

Tunggu aku di warung kopi itu ya, kita berbincang tentang banyak hal, tentang kita, tentang rindu, tentang hal yang hanya bisa disampaikan saat sua
  • Selamat ulang tahun sahabat kesayangan akuh,  my partner in crime,  my best navigator, my guardian angel, my soulmate, the best travelmate ever @nettyamin

Semoga Allah memberkahi umurmu,  memberimu sehat,  bahagia, sejahtera dan mengabulkan segala harapan dan doa.  Selamat dunia akhirat dan lancar segala urusan termasuk urusan perjodohan ya hehehe.  Aamiin

Selamay ulang tahuuuuuun, yeaaaaaaaaaay!!!
  • Alhamdulillah Jakarta hari ini cerah banget, berharap semoga Covid-19 gak betah di Indonesia.

Aku sih masih asik #diRumahAja, #WorkFromHome, nyiapin materi ngajar selang seling dengan ngerjain tugas kuliah, ngeriung sama anak gadis yg juga sibuk dengan kuliah daringnya. Kerasa sih makin siang makin hangat cuaca dan butuh yang segar-segar. Si kakak mah berasa pengen es kopi tapi aku pengen yang lebih segar yang non coffee.

Andalan pas karantina mandiri begini ya gofood lah atau pesan antar. Kali ini aku pesan minuman ke @cawankopi yang gak terlalu jauh dari rumah. Pilihannya banyak dan signature menunya semua menarik buat aku dan anak-anak.

Ssst tau gak kalau owner-nya ini mahasiswa Teknik Kimia lho, pantesan ada yang menarik saat pertama liat kemasannya. Aku sampe senyum liatnya,  selain logonya yang mengingatkan aku sama tabel periodik, plus nama-nama minumannya, ada Catalyst, Bacillus, Acuminata dan nama2 minuman lainnya yang familer dengan para penikmat kopi.

Siapa bilang anak teknik gak bisa berbisnis. Keren ya!

Sluuurrrpppp