Woman's Thought

Face Your Fear, Na!

Pagi ini saya tak sengaja melihat kembali sebuah foto yang merekam kegiatan anak-anak yang sedang melompat dari Jembatan Cinta di Pulau Tidung yang saya ambil bertahun-tahun lalu. Foto ini lalu mengingatkan saya pada potongan syair lagu kesayangan saya kala muda ((KALA MUDA)) yang syairnya begini, “if you said, Jump!, I’d say how high?, If you said, Run!, I’d run and fly”. Potongan syair ini memang banyak memprovokasi saya di banyak kesempatan sejak dulu, ketika saya harus menantang diri saya sendiri, ketika saya ragu dan takut dengan kemampuan diri saya, bahkan ketika saya merasa terancam.

Saya ingat sekali syair ini pernah begitu menguatkan saya ketika harus berhadapan dengan sebuah sengkarut, ketika saya dipaksa menyingkir untuk alasan yang dibuat-buat, saya hanya mengatakan, “ingin berlari secepat apa, ingin berlari sejauh apa? Saya mampu berlari lebih cepat dan lebih jauh dari yang dibayangkan!” Wedew…. Waktu itu sih rasanya heroik sekali memperjuangkan harga diri, tapi sekarang sih ketawa aja membayangkan betapa seberani itu saya kala itu. Entah konyol entah nekad, diinsyafi saja hehehe

Di situasi lain, ketika sejarah seakan berulang di sengkarut yang berbeda, ketika kekuasaan dengan begitu pengecut digunakan untuk menyingkirkan seseorang hanya melalui titipan selembar kertas, saya sudah tak lagi mempertahankan diri, bukan karena nggak berani lagi, tapi karena gak worth it aja berada di lingkungan yang toksik. Untuk apa mempertahankan diri dan malah jadi bagian dari itu. Saya memilih acuh dan berlalu. Saya lebih asik membangun kurva kehidupan saya yang lain.

Tantangan setiap fase hidup memang berbeda-beda, dari hal yang sederhana sampai hal yang complicated. Saya pada dasarnya adalah pemalas, penakut dan penikmat zona nyaman. Saya tidak bergerak kalau saya tidak merasakan gairah yang sangat atau ada reward yang lebih besar dari ketidaknyamanan yang saya harus bayarkan sebagai harganya.

Saya tidak bergerak kalau saya tidak merasakan gairah yang sangat atau ada reward yang lebih besar dari ketidaknyamanan yang saya harus bayarkan sebagai harganya.

Pencapaian saya kadang sederhana, bahkan zaman remaja, tantangan terbesar saya hanyalah sekadar berani ke toilet sendirian malam-malam. Saya ingat rumah dinas yang kami tempati di Pekalongan adalah rumah tua yang luas dengan toilet berada di bagian belakang rumah dan jauh dari kamar saya. Kebayang ya, bagi orang seperti saya, ke toilet malam-malam adalah sebuah tantangan tersendiri.

Makin besar dan dewasa makin besar tantangan yang harus saya hadapi. Di masa dewasa, tantangan terbesar saya adalah berani menghadapi penolakan dalam berbagai bentuk. Sekali saya merasa tak diinginkan atau tidak dibutuhkan, saya akan segera undur diri teratur. Sekali saya merasa tidak diberikan tempat untuk “manggung” dan berkarya, saya akan mundur dan membangun panggung saya sendiri. Dunia begitu luas dan ilmu demikian berlimpah, kita bisa memilih lingkungan mana yang terbaik buat kita dan siapa-siapa yang ada di dalamnya.

Dunia berubah begitu cepat, tantangan juga berubah-ubah setiap masanya. Tapi tahun 2020 kemarin, tantangan yang harus saya hadapi –dan seluruh manusia di muka bumi ini sepertinya—benar-benar luar biasa, pandemi! Hidup seolah harus di-reset total ke titik nol. Ketakutan terbesar saya di awal-awal pandemi adalah kematian. Kebayang khan, gak pakai pandemi saja, kematian masih menjadi salah satu hal yang saya takuti. Sdar diri, saya manusia pendosa, minim amal dan minus bekal pulang.

Setahun berlalu, pandemi mewujud dalam bentuk baru. Orang-orang mulai bergerak, mereka yang gelisah sudah mulai melepaskan belenggu ketakutannya satu sama lain meski risiko terpapar dan terinfeksi masih saja tinggi dan menebar ketakutan menjadi menu andalan media-media di negeri ini. Bagaimana dengan saya? Secara fisik saya masih betah di rumah saja, berinteraksi secara langsung hanya untuk yang tidak terwakilkan secara virtual, dan memilih tetap sebisa mungkin bertransaksi secara digital. Namun secara mental, saya lebih bisa mengelola rasa takut dan kekhawatiran saya. Semoga ini termasuk yang dinamakan tawakal.

Saya mengkondisikan rumah sebagai tempat yang nyaman selama pandemi. Bukan hanya secara fisik seperti membangun taman kecil di balkon kamar tempat saya menikmati hari, bermain bersama kucing-kucing liar yang akhirnya kami pelihara karena mereka betah dan menjadikan salah satu ruang di rumah menjadi ruang kerja dan belajar yang nyaman untuk kami serumah, terutama saya dan dua anak gadis yang total kerja dan kuliah dari rumah selama pandemi.

Saya mengikuti beberapa short course, mengikuti banyak webinar yang menarik serta membangun komunikasi yang lebih intim dengan anggota keluarga yang dulu ada saja friksi karena penat dan sibuk. Kami juga membeli sedikit alat masak baru, sehingga di kala jenuh dengan makanan siap hidang kami bisa barbeque bersama dan melepas penat sejenak dari layar laptop sambil berbincang ringan. Sebuah comfort zone bentuk baru ala pandemi. Dan saya sangat menikmatinya.

Namun foto anak-anak melompat dan syair lagu Debby Gibson di atas menghadirkan sensasi baru dalam benak pagi ini. Saya jadi bertanya pada diri, kapan terakhir saya mencoba hal baru? Ibarat pemain bola, setahun terakhir saya mengambil posisi bertahan. Kata orang-orang, kaum rebahan adalah pahlawan di masa pandemi. Saya nyaris tidak bergerak sama sekali, alih-alih mencetak goal, membuat target saja saya enggan. Nggak ada keinginan untuk menjadi penyerang dan menciptakan goal yang bahkan di level gak gemilang hehehe. Saking nyamannya, saya totally stuck!

Ada beberapa mimpi yang masih saya pegang erat, beberapa harapan baik agar saya tetap waras, dan beberapa rencana yang saya biarkan hilir mudik dalam benak agar saya tetap terjaga. Dan semua itu kini sudah mulai mengusik diri, saya mulai gelisah, sudah mulai serba salah di posisi yang terlalu nyaman ini sehingga membuat saya terlalu mudah terdistraksi bahkan hanya karena hal-hal gak penting. Sehingga benarlah kata orang, comfort zone itu kadangkala malah jadi belenggu yang menyakitkan. Saya resah!

Tantangan saya adalah keberanian. Berani menghadapi kenyataan bahwa dunia totally berubah dan tak akan kembali ke masa lampau. Sudah gak bisa bertahan lagi jadi kaum rebahan, harus berani keluar dari zona nyaman, berani membuat target baru, dan berani memulai kurva berikutnya. Risiko pasti tetap ada bahkan keberanian tak menjamin sebuah kesuksesan. Namun, daripada melihat sekop nganggur, mari kita mulai menggali, meski setelah menggali bisa jadi kita tidak menemukan apa-apa, tapi setidaknya kita sudah bergerak, sudah berkeringat, dan sudah melihat sesuatu dengan kacamata yang berbeda. Saya rasa itu baik untuk kesehatan mental dan raga.

So… yuk bergerak. One step ahead.

Face your fear, Na!

Lembah Nirmala, 3 Mei 2021

 

«

3 COMMENTS

  • Dwi Wahyudi

    Yukz Kak, kita sama2 bergerak. Tentu saja bergerak dengan tetap mengedepankan prokes Covid-19. Salam kenal dari saya, Blogger Kalimantan. 🙂

  • Intan Rosmadewi

    Alhamdulillah ❤️ Kemewahan telah kita peroleh yakni semua keluarga sehat setelah bertahan sekian lama, sedang banyak keluarga yg mondar – mandir ke rumah sakit dengan perasaan takut dan duka

  • Tirani

    Wahhh keren kak..sebagai sesama penikmat zona nyaman memang 2021 sepertinya harus jadi tahun bergerak. Semangatttt 😊

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.