Woman's Thought

Merawat Persahabatan Merayakan Kebhinekaan

travelecturer.com – 2017

Kalau boleh jujur, (dan mohon untuk tidak didebat) saya mungkin temasuk mereka yang paling sedih melihat betapa kini kita terpecah-pecah oleh perbedaan. Entah itu karena perbedaan pendapat, perbedaan pilihan calon gubernur, hingga perbedaan warna kulit dan keyakinan. Namun saya tak ingin mengulas mengenai hal ini lebih lanjut karena sudah terlalu banyak orang yang membahasnya dengan berbagai cara, dari yang paling santun hingga yang paling kasar, dari berupa sindiran hingga hujatan. Sedih? Tentu saja, selama 44 tahun saya menghirup udara di dunia, baru kali ini saya merasakan bahwa perbedaan begitu mudah menghancurkan kebersamaan.

Namun perjalanan ke Pekalongan kemarin tak urung membawa pikiran saya tentang hal ini dan terdorong untuk menceritakan di sini. Kehidupan membuat saya dikelilingi oleh banyak orang-orang yang berbeda, baik suku, latar belakang pendidikan, pekerjaan dan sosial, serta berbeda agama. Sejak kecil saya berpindah dari satu kota ke kota lain mengikuti kemana ayah saya bertugas. Separuh dari pendidikan dasar, saya habiskan di salah satu sekolah Katolik di Lampung dan seluruh masa putih abu-abu saya selesaikan juga di sebuah SMA Katolik di Pekalongan. Teman-teman saya beragam etnis dan agama, dan saya sangat menikmati masa-masa itu. Hubungan kami sangat harmonis, sangat menghargai satu sama lain.

Tahun berganti, belasan tahun berlalu sejak saya lulus SMA dan meninggalkan Pekalongan. Suatu ketika saya membawa serta keluarga ke Pekalongan dan mengikusertakan mereka untuk bertemu dengan banyak teman-teman saya, mirip sebuah reuni kecil. Saya tahu mereka merasakan atmosfer yang berbeda dalam acara tersebut. Berbeda dengan saya yang sudah terbiasa berada dalam keragaman dan menjadi minoritas, tidak demikian dengan suami dan anak-anak saya. Di Jakarta mereka selalu menjadi golongan mayoritas, baik di sekolah atau di lingkungan rumah.

Mereka terlihat canggung pada awal pertemuan, melihat hanya bundanya yang berkerudung di tengah kumpulan teman-teman bunda yang kulitnya putih dan bermata sipit. Namun itu hanya sebentar saja, suasana kemudian mencair sedikit-sedikit dan mereka pun larut dalam kebersamaan. Suami saya terlihat nyaman berinteraksi dan ngobrol dengan teman-teman saya, anak-anak saya terlihat gembira berkenalan dengan anak-anak dari sahabat-sahabat saya. Mereka bermain bersama bahkan akhirnya selama berada di Pekalongan mereka menjadi sekumpulan anak-anak yang sedang menikmati liburan bersama teman-teman barunya, pergi ke museum, main di alun-alun dan berenang bersama di hotel tempat kami menginap.

Di saat makan, anak-anak melihat teman barunya berdoa dengan cara yang berbeda. Di lain waktu, mereka lah yang menjadi obyek perhatian, seperti saat menggunakan mukena dan menggelar sajadah untuk melaksanakan sholat. Mereka belajar tentang perbedaan tanpa menjadikan perbedaan itu pemisah satu dengan yang lainnya. Saya ingat pertanyaan Nonik kecil, putri seorang sahabat saya kala itu, “Tante Donna mau ngapain itu? ketika saya mau sholat dan menggelar sajadah. Saya juga ingat ketika anak-anak saya menggumam, “oh begitu cara mereka berdoa” saat melihat teman-teman barunya membuat tanda salib dan berdoa. Mereka belajar tentang perbedaan tanpa harus merasa berbeda. Dan satu kalimat yang saya ingat betul saat kami pulang, mereka kompak menyampaikan kesan bahwa teman-teman bunda dan anak-anak teman-temannya bunda sangat menyenangkan dan liburan kami menjadi sangat mengesankan.

Mereka belajar tentang perbedaan tanpa harus merasa berbeda.

Hubungan saya dengan teman-teman saya sangat harmonis, mereka tidak memperlakukan saya sebagai minoritas hingga saya merasa inferior. Setiap berkumpul yang ada saya di dalamnya, mereka pasti memikirkan saya. Ketika reuni kecil di Jakarta, saya ingat betul seorang teman berbisik, “Don, kita makan di sini ya, don’t worry, aku sudah tanya pelayannya kok, kalau makanan di sini halal”. Dan pola demikian selalu mereka lakukan setiap kami berkumpul sehingga saya tetap bisa makan tanpa khawatir dan tetap bisa menjalankan ibadah di sela-sela kebersamaan.

Selama pilkada berlangsung dan hingga hari ini, tak satu pun saya melihat status atau meme yang menyudutkan agama yang saya anut dan atau status-status yang provokatif dari mereka. Tak ada satupun broadcast atau hoax yang saya terima di WA grup sekolah kami tentang hal yang sama. Yaaaa, kami bercanda, kadang saling mengolok untuk menyegarkan suasana, namun tak satupun dari kami yang mengolok-olok agama orang lain. Padahal kalau mereka mau tentu bisa, toh saya hanya satu-satunya yang muslim dalam grup tersebut.

Saya yakin mereka punya ketaatan yang tak kalah dengan umat lain, saya yakin mereka punya pendapat dan keyakinan teguh tentang agama mereka, punya ketetapan yang menyangkut pilihan dan cara mereka beragama. Begitu juga sebaliknnya, saya yakin mereka tahu di mana kaki saya berpijak meski tak ikut menyulut perbedaan atau ikut membuat gaduh media sosial soal agama yang hanya membuat kita akhirnya saling berbenturan. Justru karena saling tahu itulah, kami tak perlu saling menuduh atau menghujat. Biar semua perbedaan nyata terlihat tanpa harus menjadi pemicu perpecahan. Biar yang paling intim antara kita dengan Tuhan ada di dalam ruang pribadi. Sikap lakum dinukum waliyadin nyata terasa dan terlihat justru dari bagaimana kita bersikap.

Biarlah yang paling intim antara kita dengan Tuhan ada di dalam ruang pribadi.

Kembali ke perjalanan kemarin ke Pekalongan. Perjalanan kemarin adalah perjalanan tersingkat saya keluar kota. Berangkat pagi hari dan menempuh perjalanan ratusan kilometer dengan kereta api menuju Pekalongan dan langsung kembali ke Jakarta dengan cara yang sama pada malam harinya, hanya untuk beberapa jam menghadirkan diri dan ikut bahagia atas kebahagiaan sahabat saya yang akan menikahkan anaknya. Saya bahagia melakukannya tanpa khawatir ibadah saya di Bulan Ramadan terganggu karenanya.

Beginilah salah satu cara saya merawat persahabatan, tak peduli apa warna kulitnya, bentuk matanya dan bagaimana cara kami berdoa, perbedaan tetaplah sesuatu yang indah untuk dirayakan, sebagaimana saya merasakan kegembiraan bisa meliput jalannya acara serah-serahan ala Tionghoa, ikut mengemas parsel berisi perlengkapan serah-serahan, ikut mengambil foto bak fotografer keluarga, dan ikut duduk di bangku penerima tamu, seolah saya bagian dari perayaan itu, bagian dari keluarga itu. Dan sesungguhnya memang begitulah rasanya.

Berbeda itu pasti, namun bagaimana merawat persahabatan dalam kebhinekaan, itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Yuk saling menghargai.

Oh ya, untuk tulisan yang ini mohon tidak di-share kalau hanya untuk didebat. Saya tak ingin memancing kontroversi atau polemik. Saya hanya ingin berbagi, betapa saya bahagia dalam perbedaan sebuah persahabatan.

Tabik
Nirmala, 12 Juni 2017

«

»

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.