Woman's Thought

Saciduh Metu Sa’ucap Nyata

Saya gak tau pasti bagaimana menuliskan kalimat yang lebih renyah diucapkan dengan dialeg Sunda ini. Istilah ini saya dengar saat manasik dari pembimbing kami Ustadz Najat agar kami menjaga ucapan kami nanti di Tanah Suci. Di sana, apa yang kita ucapkan, seringkali kontan mendapat balasan, untuk itu perlu menjaga lisan. Sebenarnya bukan hanya lisan sih yang dijaga tapi juga pikiran dan kalbu kita. Karena apa yang terucap seringkali kejadian langsung. Maka pikirkanlah yang baik-baik agar yang terjadi adalah hal yang baik.

Bagi saya yang senang mengamati orang dan gampang bereaksi gini, menjaga kalbu dan lisan tentu saja bukan perkara mudah. Apalagi pergi serombongan begini dan bakal campur baur dengan banyak orang bukan hanya dari berbagai kota tapi juga dari berbagai penjuru dunia. Banyak yang harus dimaklumi, duh doa2 terus pokoknya, jangan sampai sombong, Donna, jangan takabur, banyak-banyak ngalah dan berlapang dada. Banyak-banyak istighfar lah pokoknya, cepet-cepet minta ampun kalau merasa sedikit saja ada yang salah.

Urusan tempat sholat aja deh, terutama di Mekkah, sekali dua mah kejadian juga, kudu besar hati pas mau nyempil tapi gak dikasih tempat, atau udah nyaman dapat tempat duduk tau-tau ada aja yang nyempil dan merangsek seenaknya. Ya sudah… Nahan diri, istighfar lagi hehehe. Tapi yang seneng tuh di Madinah, nyaris gak pernah ribet dengan urusan tempat sholat. Madinah itu tenang dan nyaman, mana musim dingin pula, hati ikut adem. Jarak dari hotel ke Nabawi hanya beberapa puluh meter saja dan dekat dengan gate 15, tempat favorit kami sholat. Jadi selalu mudah dapat tempat sholat meski kadang sudah dekat dengan waktu adzan.

Yang susah tuh membawa niat ini meski sudah tidak di tanah suci. Mulai deh gak sabar, mulai deh gampang kesal, mulai deh ngeliat kurangnya orang dan merasa lebih ada di kita. Kadang ngrasa, “oh jadi jaga diri, jaga lisan, jaga hati cuma karena takut saucap nyata di sana? Bukannya urusan ini berlaku dimanapun kaki menjejak?” Oalah, buru-buru istighfar lagi.

Emang gak gampang, apalagi kalau kita berinteraksi dengan banyak orang, mengalami hal-hal yang gak enak, mendengar yang gak berkenan, melihat yang gak kita suka. Untuk itulah kadang jadi merasa nyaman untuk memandang segala hal dari sisi secukupnya. Cukup tau saja , cukup pada yang terlihat saja, cukup segini aja dirasa gak usah dilebih2kan, cukup dengan kata ya sudahlah.

Mungkin benar kata pepatah, hidup itu kek kamera, fokus aja pada hal baik, batasi ruang pandang dan dengar kita agar kita tidak perlu merekam yang tidak membawa kebaikan buat diri kita.
Karena saciduh metu sa’ucap nyata sesungguhnya mengajarkan kita untuk selalu mawas diri.

Hudaibiyah,
27 Desember 2018

«

»

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.