Destination

Masih Ada Cinta di Jabal Rahmah

“Bapak, Ibu, yang ingin naik, silakan ya, kita ada waktu kurang lebih 30 menit saja” demikian Dinda, Tour Leader kami memberikan arahan. Aku memandang ke atas, jauh menuju satu titik berbentuk tugu yang menjadi tujuan ratusan orang mendaki ke atasnya.

Aku menoleh ke Si Adek dan berkata, “tinggi juga ya, Ran, Bunda bisa gak ya naik ke atas?” dan langsung dijawab dengan satu penegasan, “tapi aku mau naik ke atas, Bun!”
“Oh ya… Silakan, kalau gitu Bunda menunggu di sini ya, nanti ayah yang temani dari belakang”

Sebenarnya ada penyesalan mengapa tak memaksakan diri naik ke atas. Kebetulan kami berada di sisi bukan tempat tangga naik berada sehingga untuk naik ke atas memang harus mendaki dan melangkah di antara batu-batu besar. Keraguan saya pun timbul, nanti kalau saya pusing dan vertigo saya kambuh gimana? Apalagi kami baru saja beberapa hari di sini. Begitu jalan pikiran saya. Ah, saya memang tak cukup usaha menguatkan hati untuk naik ke atasnya.

Padahal Jabal Rahma itu sendiri adalah bukit dengan ketinggian sekitar 70 meter saja, untuk mendaki kita bisa menaiki anak tangga yang berjumlah sekitar 160 buah dan bisa dicapai dengan waktu tempuh kurang lebih 15 menit saja. Pelajaran benar bagi saya bahwa meski tidak boleh sombong, namun bukan berarti gampang pesimis.

Tak mau mubadzir menunggu, sambil menanti mereka di bawah, saya dengan sengaja memasukkan pikiran saya ke dalam dimensi kala sejarah tempat ini terukir. Masyarakat Muslim percaya bahwa Jabal Rahma adalah tempat Nabi Adam dan Hawa dipertemukan kembali setelah dikeluarkan dari surga ke bumi dan tempat di mana tugu setinggi 8 meter itu berada, konon dipercaya adalah tempat persis di mana mereka bertemu. Bukan hanya itu, Jabal Rahma juga jadi tempat bersejarah bagi perjalanan Nabi Muhammad. Karena di sanalah beliau menerima wahyu terakhir dari Allah, sekaligus penyempurna dari ajaran Islam. Tempat ini memang sungguh istimewa.

Saya melihat sekeliling, mereka-mereka yang seperti saya, yang berada di bawah tak kalah khusuknya dengan mereka yang berada di atas, mereka berdoa dengan begitu tunduk atau sembari menengadahkan tangan tinggi-tinggi ke atas. Entah apa yang mereka panjatkan, yang saya tahu bahwa tempat ini sering dijadikan tempat berdoa mereka-mereka yang memohon untuk diberikan jodoh atau pasangan hidup atau dikuatkan dalam menjalankan kehidupan perkawinan mereka.

Mengingat itu batin saya tergelitik, menelisik kembali kehidupan perkawinan kami yang telah kami pertahankan hingga tahun ke dua puluh satu. Tak seindah perkawinan di negeri dongeng, atau seromantis foto-foto para selebgram. Ah, jauhlah. Gak juga ada roman-roman menyek, semua dijalani sesuai realita. Bersikap realistis, bahwa kadang kenyataan bisa begitu keras menghantam harapan sebuah romansa. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar di pundak dan jauh lebih penting untuk tetap menjadikan rumah adalah tempat yang paling hangat dan menjadi tempat pulang yang selalu dirindukan oleh penghuninya.

Bagi saya, cinta bukan lagi romansa, tapi sebuah tanggungjawab yang manis yang buahnya bisa saya petik setiap hari dalam bentuk kebersamaan yang mengisi jiwa. Jadi ketika dari kejauhan 3 sosok itu terlihat turun dari atas bukit, saya masih sempat menyampaikan syukur, meski badai kadang begitu keras menghantam, setidaknya kami bertahan dan tahu bagaimana melesat lebih cepat setelahnya.

Sebagaimana doa yang begitu pribadi yang saya panjatkan siang itu, ketiga sosok itu mengingatkan saya bahwa cinta itu ada. Semoga saya ikhlas menerima apa yang Allah takdirkan buat saya.

Karena masih ada cinta di Jabal Rahma

«

»

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.