Destination

Madinah al Munawwarah Kota Nan Bercahaya

Hampir tengah malam saat bus yang membawa kami dari Mekkah tiba di Madinah. Hembusan angin dan udara dingin segera menyergap kami saat kami keluar dari bus. Ya… Desember adalah musim dingin di Madinah. Saya tak tahu pasti berapa suhu malam itu, hanya saja saya teringat akan dinginnya Dieng atau Bromo, rasa-rasanya tak jauh berbeda dengan temperatur yang saya rasakan ketika itu.

Malam itu saya memang terlalu lelah untuk memperhatikan sekitar, hanya sempat menunaikan sholat isya di pelataran Masjid Nabawi sambil menahan dingin. Namun kemudian selama tiga hari di Madinah, damai dan sejuknya membuat saya jatuh cinta pada kota yang mendapat julukan sebagai kota yang bercahaya ini, Madinah al Munawwarah.

Ibadah utama umroh memang dilakukan di Mekkah sehingga tak heran Mekkah terasa lebih padat dan ramai dibanding di Madinah. Bila rasanya semua orang di Mekkah selalu dalam keadaan bergegas, ritme kehidupan di Madinah terasa lebih santai. Bagi saya, kota ini seperti memberi kesempatan buat tubuh saya untuk lebih rileks.

Tak ada kegiatan yang membutuhkan energi sebesar energi yang dibutuhkan untuk Thawaf dan Sa’i. Jarak dari hotel tempat kami menginap ke Masjid Nabawi pun hanya beberapa puluh meter saja. Jadi kami bisa pulang dan pergi untuk beribadah sesering yang kami mau. Berlama-lama di masjid pun tak payah dan tak perlu berdesak-desakan seperti di Mekkah.

Payung-payung raksasa yang menjadi aikon Masjid Nabawi memang indah, sungguh sebuah pemandangan yang selalu membuat saya rindu setiap ada orang yang memasang foto masjid ini di media sosial. Pemandangan yang selalu berhasil membuat saya beberapa detik hening dan menyempatkan diri untuk memanjatkan doa, “izinkan aku segera mengunjunginya, ya Allah”

Tapi ada satu yang selalu saya ingat, langit di setiap foto-foto itu selalu cantik, biru yang begitu bersih. Jadi bisa dibayangkan ketika saya akhirnya bisa melihatnya langsung. Dan itu yang saya nikmati dengan berlama-lama setiap berada di masjid terutama pada saat pagi atau sore hari. Itulah mengapa saya lebih sering memilih tempat di pelataran masjid untuk beribadah. Saat payung terbuka, birunya seolah mengintip dari tepian payung sedang saat payung tertutup, langit biru luas membentang menyajikan kemegahan Nabawi.

Entah kenapa, sejuknya Madinah itu bukan hanya terasa pada raga namun terasa hingga ke jiwa. Sampai saat ini saya masih bisa membayangkan bagaimana rasanya hembusan angin Madinah yang menyentuh wajah dan telapak tangan saya. Apalagi di sela-sela sujud dan ruku’, syahduuuuu rasanya.
Jadi kalau Mekkah lebih sering membuat saya terharu biru, Madinah melengkapinya dengan memberi ketenangan dan kedamaian dalam kalbu.

Sebuah perasaan terpenuhi hadir memenuhi jiwa. Mengisi tangki-tangki emosi yang mungkin kosong karena selama ini tergerus kesibukan mengejar ambisi. Foto di bawah ini sengaja saya pilih untuk mewakili perasaan jatuh cinta saya di jelang senja yang indah di Nabawi. Tak ada sunset nan keemasan, namun birunya yang bersih mengusap jiwa saya, mengingatkan saya untuk sering-sering membersihkan hati, agar mampu selalu melihat keindahan dari mata batin dan memberi ruang agar cahaya masuk ke dalamnya.

TAGS

«

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.