Destination

Izinkan Kami Kembali ke Rumah-Mu

Hari-hari di Mekkah terasa sangat singkat banget, tau-tau sudah hari kelima, sudah harus packing koper lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Madinah. Alhamdulillah sejauh ini masih diberi sehat, bisa ibadah lancar dan merasakan kenikmatan di setiap ibadah. Lelah yang begitu nikmat, peluh yang begitu menyehatkan jiwa.

Hari-hari kami nyaris hanya diisi antara hotel, masjid, ke hotel lagi ke masjid lagi yang diselingi dengan dua hari city tour di sekitar Kota Mekkah. Ke hotel hanya istirahat dan makan, selebihnya diisi dengan ibadah Umroh dan memperbanyak ibadah di masjid. Alhamdulillah seluruh menu makanan kami dibuat dengan cita rasa Indonesia, kami tak kesulitan soal makanan. Bahkan porsi makan saya selama di Mekkah sepertinya jadi dua kali lipat, mungkin untuk mengimbangi energi yang keluar. Itulah yang membuat kami bahkan tak sempat banyak mencicipi makanan lokal, pergi ke masjid dalam keadaan kenyang, pulang2 pas jam waktu makan. Cuma sempat membeli Fried Chicken Albaik, KFC dan Es Krim. Itu juga karena permintaan anak-anak.

Begitu setiap hari aktivitas kami tanpa terasa harus sudah meninggalkan Mekkah dan melakukan Thawaf Wada, Thawaf perpisahan. Ah… Dari kata perpisahan saja saya sudah sedih. Jadi kalau di thawaf-thawaf sebelumnya saya banyak berdoa segala macam sambil dituntun Pak Ustadz, di Thawaf Wada ini entahlah tak terhitung berapa kali saya memanjatkan doa agar bisa diundang kembali ke sini. Baik untuk beribadah Umroh maupun Haji.

Banyaaaak sosok yang terlintas dalam ingatan saya agar merekapun bisa hadir di tempat ini baik bersama-sama saya maupun mereka bersama orang-orang yang mereka sayangi. Saya menyebut nama semua keluarga dan sahabat, saya ingin bersama mereka Ya Allah kembali ke sini. Dengan lirih dan begitu dalam saya memanjatkan itu.

Ada doa-doa khusus yang begitu pribadi saya panjatkan saat berkesempatan sholat di Hijir Ismail. Permohonan yang begitu dalam, pengakuan demi pengakuan yang begitu luruh dari dalam diri –yang sejatinya Allah Mahatahu– apa yang pernah saya kerjakan selama 45 tahun diberikan kehidupan di dunia.

Tamu yang compang-camping ini, yang ibadahnya kadang naik kadang turun, yang dosanya banyak banget, yang kadang berani banget bikin dosa, yang sibuk mengejar kemilau dunia, yang syukurnya sering banget telat, yang suka iri dan hasad sama orang, yang kadang sombong dan riya’, yang kadang suka gak ikhlas sama ketentuan Allah dan masiiiih banyak lagi.

Di depan Kakbah, tak ada yang mampu saya sembunyikan, saya mengakui semua kelemahan diri, saya lepaskan semua! Tak ada pula yang saya khawatirkan setelah ini, saya yakin skenario Allah adalah yang terbaik buat hidup saya. Setelah segala doa dipanjatkan, ikhtiar kelak dilaksanakan, maka apalagi yang harus dirisaukan. Duhai Yang Mahakuasa, begini nikmatnya berserah.

Saya ingin pulang dan memulai hidup dengan lebih baik di Jakarta. Meredefinisikan kehidupan yang seperti apa yang ingin saya jalani sesudah ini. Tetap menjalani kehidupan sebagaimana yang saya coba tata setahun terakhir di Jakarta dengan meletakkan Tuhan dan kehidupan akhirat sebagai prioritas yang utama dan pertama.

Saat itu saya tak mampu menembus kerumunan manusia untuk mencium Hajar Aswad, namun dengan penuh haru dan tanpa daya saya menyerahkan hidup dan mati saya seraya merapatkan diri di dinding Kakbah, dan merasakan lembutnya khiswah di telapak tangan saya. Saya mengelusnya berulang-ulang, seolah Allah sedang melihat saya yang bersimpuh penuh malu, “ampuni hamba, Ya Allah… Ampuni Hamba”

Di putaran terakhir Thawaf Wada, saya menatap lekat Kakbah, kiblat seluruh muslim di dunia. Melambaikan tangan dan menciumnya, dengan airmata yang seolah tak ingin usai menitik, “izinkan hamba kembali ke Rumah-Mu, Ya Allah… Izinkan hamba merasakan kenikmatan yang seperti ini lagi, di sini”

«

»

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.