Woman's Thought

Allah Memang Mahabaik

Dini hari itu, 25 Desember 2018 rombongan kami dipandu oleh Tour Leader dan Ustadz Abdullah bergerak meninggalkan hotel menuju Masjidil Haram sebelum Azan Subuh berkumandang. Sesuai dengan rencana, kami akan melakukan Umroh yang pertama seusai melaksanakan sholat Subuh berjamaah di Masjidil Haram. Kalimat talbiyah terus terlantun dari bibir kami, seolah tak memberikan ruang untuk hal lain ke dalam pikiran. Hati saya tak karuan rasanya, bahagia dan haru bercampur jadi satu. Sebentar lagi saya akan melihat Ka’bah yang selama ini hanya mampu saya pandangi gambarnya di ujung sajadah.

Sesekali tenggorokan saya tercekat, berhenti beberapa detik karena rasa yang membuncah, air mata meleleh begitu saja di ujung mata, saya buru-buru mengusapnya sambil terus mengatur emosi yang makin dekat makin menggeliat. Ya Allah… Aku makin dekat ke rumah-Mu. Berbeda dengan Pak Suami yang lebih sering berada bersama jamaah lelaki, saya dan anak-anak serta adik perempuan saya selalu berusaha berdekatan, bersama berpegangan tangan. Namun begitu sepertinya kami khusuk dengan pikiran masing-masing dan tak ada yang bisa mengira apa yang ada dalam pikiran kami satu sama lain.

Langit beranjak terang saat kami akan memulai thawaf, saat itulah untuk pertama kali saya melihat kebesaran Tuhan lewat sebuah bangunan berselimutkan kain hitam yang kami sebut dengan Ka’bah. Lagi-lagi air mata menetes, saya tak berusaha membendungnya, biarkan saja ia mengalir, karena tak ada nikmat lain yang begitu membahagiakan selain nikmat yang hadir di setiap tetes yang menghangatkan pipi saya di depan Ka’bah. Ya Allah… kami datang memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah.

Lagi-lagi air mata menetes, saya tak berusaha membendungnya, biarkan saja ia mengalir, karena tak ada nikmat lain yang begitu membahagiakan selain nikmat yang hadir di setiap tetes yang menghangatkan pipi saya di depan Ka’bah

Meski hari masih pagi saat itu, namun ribuan manusia sudah berkumpul di seputar Ka’bah. Lagi-lagi saya memandang penuh keharuan, begitu banyak manusia datang dari penjuru dunia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Segala jenis manusia ada rasanya, entah dari bangsa mana saja  mereka berasal dan saya hanyalah satu titik kecil di antara mereka. Tiba-tiba hadir dalam benak saya sebuah tanya, bagaimana nanti di Padang Mahsyar? Putih mendominasi pendangan, kemanapun arah pandang dilayangkan. Yang segini saja begitu mendebarkan, apatah nanti ketika seluruh umat dari berbagai zaman dikumpulkan dengan membawa catatan dosa dan amalnya masing-masing?

Putaran demi putaran kami lalui, alhamdulillah setiap jamaah dibekali dengan TGS –tour guide service– alat kecil dengan ear plug yang ditempelkan di telinga sehingga kami selalu terkoneksi dan bisa mendengarkan ustadz yang sabar dan baik hati yang membimbing untuk melafalkan doa-doa sepanjang prosesi, dari Thawaf hingga Sai meski jarak kami tak selalu dapat berdekatan.  Ribuan manusia yang semua bergerak terkadang membawa  kami terbawa arus manusia menjauh dari rombongan. Itulah mengapa sesekali kami tetap harus fokus berada di dalam kelompok agar tidak terpisah.

Di thawaf pertama itu, kami sempat terbawa ke dalam lingkaran yang lebih dekat dengan Kakbah namun kondisinya begitu berdesak-desakan hingga saya dan anak-anak memutuskan untuk lebih banyak thawaf di lingkaran yang lebih tepi supaya lebih nyaman dan mengurangi resiko terpisah satu sama lain. Dan ternyata memang lebih nyaman, bisa lebih khusuk memutari Ka’bah sambil melantunkan doa, putaran demi putaran hingga genap tujuh kali putaran.

Begitu juga saat Sai, kami menikmati setiap putarannya, dari Shafa ke Marwah, bolak-balik sebanyak tujuh kali dengan jarak yang apabila direntangkan total jumlah jarak tempuhnya nya sekitar 3.5 km. Terbayang betapa manjanya saya di Jakarta, jalan kaki lebih dari 500 meter saja pasti saya bakal nyegat angkot, ojek atau bajaj. Tapi di sini semangat yang membuncah membakar habis semua kemanjaan. Yang terbayang dalam benak saya adalah sebuah padang pasir tandus nan luas dan seorang perempuan mulia –Siti Hajar– yang bolak balik mencari setetes air untuk putera kesayangannya yang kelak menjadi nabi kita, Nabi Ismail AS. Sungguh berbeda dengan saya saat melakukan hal yang sama, namun di bawah atap dan di atas lantai yang sejuk. Bila haus saya tinggal berhenti dan meneguk air yang tersedia di banyak titik.

Saya memandang dua gadis yang berada di depan saya, berjalan bersama bersisian, sambil melafalkan doa dan pujian. Langkah keduanya mantap, raut wajah mereka berbinar-binar penuh kegembiraan, tak terlihat lelah di gurat wajah mereka. Bahagia rasanya mereka bisa menikmati setiap ibadah dengan hati riang penuh kesyukuran. Hati saya meleleh, melihat mereka bergandengan tangan, mengayunkan genggaman ke depan dan ke belakang sambil mengalunkan barisan puji dengan irama yang menyejukkan hati. “subhanallah, walhamdulillah, walaa illaaha illalah, allahu akbar, wala haula wala quwwata illa billah, aliyyil azim” Duh… Masih terngiang irama itu.

Sesekali mereka menoleh ke belakang, memastikan bundanya ada di belakang dan melontarkan senyum sebagai konfirmasi semua baik-baik saja lalu melanjutkan langkah Sai mereka. Melihat pemandangan ini, sebaris doa pun terlantun, Ya Allah, semoga mereka akan terus begitu, sepanjang hayat “bergandengan” tangan, saling sayang, saling jaga, saling mengingatkan dan terus berbagi kebajikan dalam ikatan yang tak pernah lepas sebagai saudara sekandung, seiman, sehidup dan insyaa Allah sesurga kelak.

Doa itu semakin panjang ketika Sai selesai dan saat mereka tahalul. Doa yang saya lantunkan sambil menggunting sejumput rambut kedua anak gadis ini. Semoga Allah berkahi langkahmu, Nak. Menjadikan kalian perempuan-perempuan sholehah yang istiqomah, berilmu dan yang memanfaatkan ilmunya untuk umat di jalan Allah. Semoga Allah kelak memberi kalian pasangan yang bisa menjadi imam kalian, yang sholeh dan bertanggung jawab terhadap diri dan keluarganya di dunia dan akhirat.

Lega dan bahagia rasanya bisa menyelesaikan umroh yang pertama ini. Sambil duduk istirahat di depan Ka’bah, kebahagiaan saya menjadi lengkap ketika tiba-tiba lengan Si Adek melingkar di pinggang saya, merapatkan tubuhnya dan berbisik manja di telinga, “Bunda…, aku seperti mimpi rasanya bisa umroh melihat Ka’bah di hadapan kita, terima kasih Bunda, sudah bawa aku dan Kakak ke sini”

Bunda…, aku seperti mimpi rasanya bisa umroh melihat Ka’bah di hadapan kita, terima kasih Bunda, sudah bawa aku dan Kakak ke sini”

Aku balas memeluk gadis ini, tak banyak kata yang terucap, hanya kecup sayang di keningnya sambil berkata, “alhamdulillah, Nak… Allah memang Mahabaik.

Dan pipi sayapun basah… Bahagia.

Masjidil Haram,

25 Desember 2018

«

»

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.