Woman's Thought

Tamu Yang Compang-Camping

Saya memang tak bercerita pada banyak orang tentang rencana keberangkatan umroh saya kala itu, kalaupun bercerita itu saya lakukan setelah visa keluar dan keberangkatan hanya tinggal menghitung hari, itupun hanya pada keluarga, sahabat dan teman dekat, serta beberapa kolega yang ada kaitannya dengan pekerjaan yang ditinggalkan selama Umroh nanti. Tak ada maksud apa-apa selain hanya menjaga niat dan supaya fokus pada persiapan untuk berangkat.

Banyak cerita yang saya dapatkan dari banyak orang tentang kisah perjalanan mereka ke Tanah Suci, entah itu dalam rangka menunaikan ibadah Haji, juga dalam rangka menunaikan ibadah Umroh.  Selain banyak hal-hal yang baik yang bisa saya ambil hikmah dan manfaatnya, terselip juga cerita atau peringatan yang membuat saya seringkali berpikir, ternyata ada saja ya cerita atau kejadian yang gak enak ketika berada di tanah Suci.

Hal ini mau gak mau masuk ke dalam alam pikiran saya berbulan-bulan sebelum berangkat. Pikiran “kira-kira apa yang akan terjadi sama saya ya di Tanah Suci nanti?, duh mereka yang baik saja mengalami hal yang gak enak, gimana  nasib saya yang banyak dosa ini ya? Ntar dapat balasan apa sesampainya di sana?” pertanyaan yang terus menerus bolak balik berkelindan dalam benak sebelum berangkat. Ya, saya tahu diri, dosa saya tuh memang banyak bangeeeeeet. Tapi saya ingin sekali menjadi tamu Allah.

Sebenarnya malu sama Allah, malu menyebut diri tamu Allah, malu melabelkan diri seseorang yang datang memenuhi undangan-Nya.

Sebenarnya malu sama Allah, malu menyebut diri tamu Allah, malu melabelkan diri seseorang yang datang memenuhi undangan-Nya. Terbayang tentang logika di dunia, tamu itu biasanya tampil cantik, menggunakan pakaian terbaik, dan datang memenuhi undangan dengan penuh suka cita. Tapi kok saya merasa gak gitu, datang sebagai tamu Allah tapi bawa banyak dosa, penuh kekhawatiran, takut sesampainya di sana ditampakkan segala dosa-dosa yang pernah dilakukan dan diberikan balasannya. Ibaratnya tamu, pakaianku buruk sekali. Tamu yang compang-camping.

Meski sudah berusaha menambal di sana-sini, tapi terlalu banyak lubangnya, dan tetap merasa compang-camping. Waktu keberangkatan makin dekat, tapi masih punya hutang puasa, masih saja membawa kecewa atas satu dua nama, masih kadang iri, kadang suudzon dan mungkin hasad. Sempat terpikir, begini rasanya ya mau berjumpa dengan Allah, semua begitu nyata, tak ada yang bisa kamu sembunyikan, Donna!. Padahal ini baru mau ke Baitullah, gimana kalau benar-benar harus bertemu dengan-Nya alias kematian yang bisa datang kapan saja. Kalau kematian datang dan aku harus menemuinya, pasti aku gak bisa mengelak juga khan, gak sempat lagi berbenah? Bahkan mungkin gak sempat nambal-nambal dosa yang banyak ini. Ya memang harus siap kapan saja, belajar mengingat Allah di setiap tarikan nafas, muhasabah, menghisab diri di tiap penghujung hari.

Padahal ini baru mau ke Baitullah, gimana kalau benar-benar harus bertemu dengan-Nya alias kematian yang bisa datang kapan saja. Kalau kematian datang dan aku harus menemuinya, pasti aku gak bisa mengelak juga khan, gak sempat lagi berbenah? Bahkan mungkin gak sempat nambal-nambal dosa yang banyak ini.

Tapi aku kemudian terpikir, bukankah Allah sebagaimana prasangka hambanya. Maka jelang berangkat akhirnya hanya satu yang dilakukan yaitu, berserah. “Ya Allah, bila memang masih ada dosa-dosaku yang belum engkau ampuni dan harus aku terima balasannya di Tanah Suci nanti, aku pasrah. Aku percaya, Engkau Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kasih sayang-Mu jauh lebih besar daripada murka-Mu asal kami mau memperbaiki diri.” begitu pada akhirnya hati ini berbicara.

Dan akupun mantap melangkah sambil selalu banyak-banyak istighfar, berlapang dada, dan merendahkan hati. Alhamdulillah 13 hari kami safar berombongan, semua baik-baik saja, lancar-lancar saja. Meski bukan berarti semua berjalan sempurna, sempat juga terpisah sebentar dari rombongan saat hendak ke Raudhah karena antrian pemeriksaan. Sempat kebingungan nyari-nyari si kakak saat di Jabal Uhud karena ia berbelok terlalu cepat dan terpisah dari rombongan. Sempat juga mengkhawatirkan si ayah yang dua hari demam di Madinah. Tapi insya Allah semua itu rasanya hal yang lumrah terjadi dalam sebuah perjalanan dan pasti ada pelajaran yang bisa diambil. Kalaupun itu sebuah peringatan, insyaa Allah kami dapat mengambil hikmahnya.

Yakini saja, kasih sayang Allah memang luar biasa.

Mekkah,

Desember 2018

«

»

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.