Destination

Impian yang Lepas Landas

Jakarta Airport Hotel sore itu. Aku berdiri di samping bingkai jendela kamar menikmati lalu lalang pesawat di landasan pacu. Ada yang akan lepas landas dan ada yang baru saja mendarat. Ada yang besar ada yang kecil, dari berbagai maskapai dan negara. Sungguh beragam.

Akupun teringat sebuah cita yang pernah lama diidamkan tak lama setelah menyelesaikan pendidikan magister di Bogor dan diikuti dengan purna tugas pula dari sebuah jabatan struktural. Tak ada lagi yang harus aku kejar, begitu pikirku saat itu. Karir struktural di kampus sudah aku anggap selesai, telah mencapai titik tertinggi di mana aku ingin berada. Tak ada ketinggian lain yang harus aku raih, jadi setelah ini harus punya kehidupan yang baru, dan tagar #lepaslandas pun muncul.

Karir struktural di kampus sudah aku anggap selesai, telah mencapai titik tertinggi di mana aku ingin berada. Tak ada ketinggian lain yang harus aku raih.

Tahun 2015 aku canangkan untuk bisa “lepas landas” terbang ke situasi yang tak lagi melulu soal kerja, karir dan uang. Situasi di mana tak mau lagi dipusingkan dengan urusan cicilan dalam bentuk apapun serta utang piutang, me-nol-kan semua tagihan, menggunting semua kartu kredit dan mengucapkan selamat tinggal pada mereka. Saya memutuskan untuk hidup dengan rasa cukup dari pekerjaan sebagai dosen yang tak terikat dengan pekerjaan struktural dan enjoy dengan hidup bersama keluarga, menemani anak-anak bertumbuh, membangun kurva karir baru dan memprioritaskan membenahi urusan dengan Tuhan yang banyak sekali terbengkalai karena urusan dunia.

Butuh 3 tahun mempersiapkan lepas landas itu dan baru benar-benar bisa lepas landas dua tahun kemudian. Ada banyak peristiwa yang membuatnya mundur demikian lama. Shinning object syndrome, setiap mau injak rem, kok di depan ada hal yang menarik untuk dikerjakan atau diraih, terus nge-gas lagi hehehe.  Salah satunya, tergiur menerima pekerjaan struktural yang sebenarnya sudah ditolak dan keasikan menekuni profesi baru saat itu sebagai travel blogger yang menyenangkan selama kurang lebih 4 tahun. Hingga suatu saat terpikir, sudahlah…, sudah cukup, Donna!.

Maka saya mulai menginjak rem, mengurangi kecepatan, tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang menghabiskan waktu banyak, mengurangi perjalanan kecuali volunteering dan sponsored trip, serta memilah dan memilih kegiatan mana yang harus saya ikuti termasuk menyiapkan diri untuk sebuah perjalanan yang pernah di suatu ketika saya mohonkan dengan isak tangis dalam doa, saya ingin ke rumah-Mu duhai Rabbi, beserta suami dan anak-anak. Aku tak tahu, caranya tapi aku yakin bila Engkau izinkan, tak ada yang sulit bagi Engkau untuk mengabulkannya.

Saya ingin memantaskan diri, untuk sebuah perjalanan yang pernah di suatu ketika saya mohonkan dengan isak tangis dalam doa, saya ingin ke rumah-Mu duhai Rabbi, beserta suami dan anak-anak.

Seseorang sempat meredupkan impian saya, ia yang memegang amanat jabatan, dengan kekuasaannya telah berlaku zalim terhadap saya, tapi ternyata Allah selalu menepati janji, bahwa tak ada kehilangan yang tak berujung hikmah dan Allah menggantikannya dengan lebih baik. Seorang manusia mungkin menutup pintu rezekimu, namun Allah di atas kuasa manusia, dibukakannya pintu-pintu lain, tangan-tangan yang mengajak bersama, menjemput rezeki yang kadang bagi saya begitu ajaib cara dan jumahnya, sungguh tak terduga.

Saya berbenah diri, memperbaiki hubungan saya dengan Allah, memantaskan diri untuk diundang ke rumah-Nya. Saya meniatkannya sesungguh hati, membawanya dalam setiap doa dan tarikan nafas. Mengganti semua wallpaper dan screenlock di semua gawai dengan gambar Baitullah sebagai afirmasi dan supaya ingat ada mimpi yang sedang saya jemput. Membuka tabungan khusus untuk ke sana supaya gak boros dan gak membelanjakan uang ke hal-hal yang hanya keinginan belaka.

Meski dengan logika matematika manusia, saya pasti akan butuh waktu yang lama untuk bisa mencukupi kerinduan saya bersama keluarga ke Tanah Haram, namun hal yang saya yakini hanyalah bahwa Allah akan mencukupinya di waktu yang tepat. Dan itu benar-benar terbukti, Masyaa Allah. Ada saja cara Allah menggenapkan niatan kami. Bayangkan, untuk berangkat sendirian saja saya harus berhitung cermat, apatah lagi dapat pergi berempat. Tapi apa yang mustahil bagi Allah?

Ada satu hal yang saya ingat betul, saat harus membeli tiket, saat itu hitung-hitungan kami sudah cukup untuk saya dan suami berangkat. Tapi kok sedih ya bakal ninggalin anak-anak. Doa saya dalam hati, “Ya Allah saya ingin bawa anak-anak, perkenankan, ya Allah.” Saya mengambil waktu untuk berpikir, menunda pembelian tiket untuk saya dan suami barang beberapa hari. Uang tabungan kuliah anak-anak pun melintas di pikiran saya. Lalu saya tanyakan pada anak-anak, “Kalau uang tabungannya dipakai dulu untuk umroh, kalian mau nggak? Tapi emang akan berpengaruh terhadap keputusan kuliah kalian sih, kalau nggak tembus PTN agak repot nyiapin uang lagi untuk masuk PTS yang bagus.” Eh jawaban Si Kakak sungguh menyejukkan hati, “Pake umroh dulu aja gak apa-apa, Bun… insyaa Allah pasti akan Allah ganti, akan ada jalan keluar soal kuliah aku, tenang aja”

Allah memang Mahabaik, di masa itu banyak sekali kejadian, tahu-tahu banyak event, tahu-tahu dapat project campaign jangka panjang, tahu-tahu mobil lama kami ada yang mau beli, bahkan tanpa menawar dibayar di hari itu langsung dengan harga yang sama yang pernah saya tawarkan dulu ke orang-orang (dan gak laku hahaha). Bahkan yang paling mengharukan saya, dan selalu saya syukuri adalah ternyata uang persiapan masuk kuliah anak-anak yang terpakai untuk memberangkatkan mereka benar-benar Allah ganti. Mereka –keduanya– di tahun yang berbeda diterima di universitas impian mereka melalui jalur undangan di Universitas Indonesia. Masya Allah. Nikmat Allah mana lagi yang hendak aku dustakan.

Bahkan yang paling mengharukan saya, dan selalu saya syukuri adalah ternyata uang persiapan masuk kuliah anak-anak yang terpakai untuk memberangkatkan mereka benar-benar Allah ganti. Mereka –keduanya– di tahun yang berbeda diterima di universitas impian mereka melalui jalur undangan di Universitas Indonesia. Masya Allah. Nikmat Allah mana lagi yang hendak aku dustakan.

Dan bila hari itu, 23 Desember 2018 saya duduk di pinggir jendela kamar hotel, menatap landasan pacu dan pesawat yang hilir mudik dengan sepenuh rasa, tentu bukan tanpa alasan. Saya merenungi segalanya, menginsafi semua kelemahan saya, mengakui kebesaran-Nya. Allah Mahasegala, tak ada yang tak mungkin bagi-Nya. Manusia hanyalah hamba, kewajibannya sebatas doa dan ikhtiar, sisanya Allah yang akan selesaikan, termasuk perjalanan kami sekeluarga ke Tanah Suci.

Manusia hanyalah hamba, kewajibannya sebatas doa dan ikhtiar, sisanya Allah yang akan selesaikan

Perjalanan itu pun kami mulai hari itu, kami telah bersiap untuk lepas landas dini hari nanti, ke Baitullah, ke rumah-Nya. Ke momen-momen yang insyaa Allah membawa kami benar-benar lepas landas ke kehidupan yang semoga lebih baik sesudah hari ini. Hidup dengan rasa cukup dan penuh kesyukuran sambil terus fokus mengumpulkan bekal untuk kehidupan setelah di dunia. Bekal untuk kehidupan di akherat agar kelak kami berempat dapat bersama-sama menjadi penghuni surga-Mu kelak.

Aamiin

Cengkareng,
Jakarta Airport Hotel
23 Desember 2018

TAGS

«

»

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.