Woman's Thought

Aku dan Pandemi 2020

Bismilahirrohmaanirrohiim

Ada perasaan yang beda memang akhirnya kita bisa melewati tahun 2020 dalam kondisi pandemi yang masih belum juga usai. Terhitung sejak bulan Maret 2020, tatanan kehidupan kita sudah berubah sedemikian rupa selama sepuluh bulan. Sebagian besar diliputi rasa cemas, sebagian lagi sudah bisa menerima namun masih dalam kondisi waspada. Bagaimanapun, kita semua pasti berharap tidak terinfeksi virus Covid-19, maka ketika 2020 terlewati dalam kondisi masih sehat dan bisa bernafas bersama-sama keluarga itu sudah merupakan anugerah terbesar dalam hidup kita.

Tulisan ini saya buat sebagai penanda keinginan baik untuk kembali menulis. Setelah lebih dari tiga tahun membiarkan www.donnaimelda.com dan www.travelecturer.com dalam kondisi dorman, rasanya sayang kalau blog yang ini juga dibiarkan berdebu dan usang –Ah, jadi mirip sebuah syair lagu, berdebu dan usang– hehehe. Tulisan ini juga sekaligus sebagai penanda pergantian tahun dari tahun 2020 ke tahun 2021 yang meski tanpa perayaan namun patut juga kita ingat sebagai momen istimewa.

Saat tulisan ini saya buat di blog, tahun 2021 sudah bergulir di hari kedua, namun tulisan ini adalah tulisan yang saya buat di tanggal 31 Desember, sesaat sebelum tahun berganti. Tujuannya sederhana, sekadar untuk menyemangati diri memasuki tahun 2021 sekaligus sebagai refleksi diri di tahun 2020. Sejujurnya, 2020 adalah tahun yang berat buat saya, 3 bulan pertama pandemi saya dalam keadaan tertekan cenderung mengalami depresi. Apalagi bulan pertama, kiamat seolah akan datang dalam hitungan hari dan kematian bisa saja menghampiri setiap detiknya. Saya kehilangan harapan hidup dan menjalani hari demi hari dalam ketakutan virus akan menyerang saya dan keluarga.

Bulan-bulan berikutnya adalah pergulatan panjang, bagaimana memposisikan diri di tengah-tengah. Inginnya gak paranoid namun tetap waspada. Kalau dalam istilah agama yang saya yakini, saya selalu berusaha menjaga mental dan spiritual saya berada di antara roja dan khauf. Antara takut namun tetap yakin akan kasih sayang Allah Swt. Saya belajar menempa diri untuk tetap memelihara harapan dan menerima bahwa pandemi merupakan takdir yang memang harus kita terima sebagai manusia. Ini sungguh tak mudah. Jadi nyaris 95% selama sepuluh bulan saya melanjutkan hidup dengan di rumah saja, baru menjelang akhir tahun saya menjadi sedikit santai namun tetap gak mau keluar rumah kalau gak urgent.

Kini kaki kita telah berada di tahun 2021, di titik ini saya sudah gak mau mikirin apa-apa yang tak tercapai dan apa-apa yang terlepas. Juga sudah gak mau melabeli tahun 2020 dengan julukan apapun yang hanya membuat pesimis. Bagaimanapun, meski pada kenyataannya banyak hal yang harus kita terima sebagai bagian dari ketentuan Allah namun kita masih bisa terus berharap tahun 2021 akan lebih baik. Sayamasih berharap tetap sehat, bisa mendampingi keluarga, berkarya dan bermanfaat sambil mengumpulkan bekal akhirat.

Sekarang saya ingin menatap tahun baru dengan rasa syukur pada apa-apa yang masih bisa saya  punya hari ini. Pada tubuh yang sehat, sehingga masih bisa makan minum dengan nikmat dan masih bisa berkumpul bersama keluarga. Ingin tetap bersyukur pada banyak hal yang ternyata mampu dilakukan di masa pandemi. Kondisi yang memaksa kita harus di rumah saja ternyata memberikan kita banyak waktu untuk melakukan apa yang tidak kita bisa lakukan sebelumnya, entah itu karena kesibukan atau belum datangnya sebuah kesadaran. Selalu ada hikmah yang bisa kita petik asal kita bersedia menemukannya.

Bagi saya, senang rasanya bisa pensiun dari julukan si tangan panas yang kalau menanam apapun pasti tanamannya mati hehehe. Lumayanlah saya berhasil menanam berbagai jenis sayuran dan bisa menikmati panenannya, seperti cabe, tomat, kangkung, pokcoy, bayam dan daun katuk dari petakan di teras atas depan kamar saya. Balkon lebar yang tadinya kosong dan gersang sedikit demi sedikit menjadi hijau, teras jadi tempat bermain saya setiap pagi bersama kucing, pot, media tanam dan berbagai jenis tanaman baru. dari sayur, bunga-bunga bahkan tanaman buah yang saya tanam dalam pot besar atau tabulampot seperti Jeruk Kalimantan, Jambu Kristal, Jambu Air Deli hingga tanaman Mangga yang saya lupa dari jenis apa.

Ahamdulillah, kebiasaan setiap pagi seperti itu membuat saya jadi punya kebun kecil di atas. Semacam rooftop garden gitu, yang meski tidak luas namun tiap pagi bisa bikin saya betah berlama-lama di sana. Saya betah berlama-lama meengurusi tanaman dan memandangi bunga mana saja yang mekar pagi ini atau daun baru mana yang bertambah hari ini. Seringkali saya melakukannya sambil mengambil foto bunga-bunga dan tanaman tersebut. Sampai-sampai setelah sepuluh bulan berlalu saya punya banyak sekali koleksi foto, bahkan dari tanaman yang sama saya bisa punya koleksi dari dia bertunas, berdaun, hingga berbunga dan berbuah hahaha.

Masih di balkon ini juga, saya menghabiskan waktu untuk baca buku dan kitab suci. Ini jadi rutinitas setiap pagi setelah mengurus tanaman. Sesekali dijeda dengan bermain bersama kucing-kucing yang semuanya berwarna orange. Tadinya mereka adalah kucing liar di kompeks tempat kami tinggal, tapi karena kami sekarang di rumah saja, suami jadi rutin memberi makan dan membuat mereka akhirnya betah. Kegiatan pagi ini bisa berlangsung hingga mentari meninggi dan diakhiri setelah saya berjemur atau menikmati hangat sinarnya yang bermanfaat untuk imunitas tubuh saya.

Pandemi juga membuat saya jadi 24 jam ada di rumah. Gak ada cerita geret2 koper dini hari untuk liputan atau trip, juga tak ada kegiatan subuh-subuh keluar rumah membelah jagorawi menuju venue di Jakarta. Kalau ada jam ngajar, sehabis event biasanya saya langsung ke kampus. Dan kalau ada jam ngajar kelas karyawan, bisa-bisa saya seharian penuh berada di luar dan baru kembali ke rumah kala malam sudah berjalan jauh.

Pandemi juga yang bikin kami jadi sering ngurusin dan main sama kucing kompleks, membuat mereka betah dan akhirnya membuat rumah kami jadi basecamp atau rumah singgah para Oyens kompleks hahaha. Tadinya hanya berjumlah satu atau dua yang numpang mampir makan, tapi kemudian para Oyens itu malah pada numpang nikah dan numpang lahiran hingga kini berjumlah 6 ekor dengan status penghuni tetap. Ini belum termasuk kitten-kitten yang meninggal dan ada dua baby kitten berumur semingguan yang kini menghuni garasi.

Pada dasarnya mungkin saya memang orang rumahan, jadinya ya nyaman-nyaman saja di rumah. Yang bikin stress tuh karena rasa khawatir yang berlebihan dan pemberitaan. Akhirnya saya kurangi saja membaca berita dan mulai mengikuti akun2 para dokter yang memberikan afirmasi positif. Ahamdulillah terasa rasa takut dan stress saya jauh berkurang. Namun begitu ya gak berkurang juga kewaspadaan atas bahaya dan penularan virus. Saya masih betah di rumah saja. Ya…, saya merindu banyak hal, rindu keluar rumah, hangout dan traveling. Tapi sebenarnya semua kekhawatiran dan kerinduan itu berujung pada satu keinginan saja yaitu bebas dari rasa takut. Ya takut ketularan ya takut akan kematian, secara saya memang sadar dirilah makhluk banyak dosa.

Alhamdulillah setidaknya pandemi ini meningkatkan kesadaran akan ketentuan Allah tentang takdir. Pandemi jadi semacam u-turn untuk balik lagi melihat apa hakikat hidup, untuk benah-benah diri, menata hidup, memperbaiki hubungan dengan Allah seraya mengumpulkan bekal. Meski dari dulu urusan jodoh, rezeki, lahir dan mati itu dari dahulu saya sudah sering dengar tapi pandemi membuat jadi lebih bermakna. Saya lebih bisa menghargai waktu, kesempatan dan umur. Sadar akan kelemahan sebagai manusia.

Pandemi membuat semua seolah serta merta terhenti dan kita harus menekan tombol reset, memulai segaa sesuatu yang gak bisa lagi sama seperti waktu sebelumnya. Banyak yang hilang dan terlepas tentu, tapi kini saya hadapi dengan kepasrahan yang lebih dalam tanpa mengurangi nilai ikhtiarnya insyaa Allah. Rezeki berkurang signifikan karena event totally berhenti, ya dijalani aja, disyukuri masih ada pintu rezeki yang lain, disyukuri karena masih bisa makan dan masih punya pilihan. Gak bisa jalan-jalan ya gak apa-apa, masih bisa kok keliling-keliling meski gak turun dari mobil dan beli makanan drive thru terus makan di parkiran restoran di dalam mobil hehehe.

Percaya saja bahwa kondisi ini akan berubah, atau kalaupun pahitnya tidak akan kembali normal seperti dulu, maka manusia pelan-pelan akan menemukan caranya sendiri untuk beradaptasi dan survive. Kita akan menemukan bentuk kesenangan baru dan kebahagiaan baru. Sekarang saja sudah terlihat ya, mereka yang bahagia dengan hobi-hobi barunya. Ada yang asik di kebun, ada yang asik di taman, ada yang asik dengan masakan dan resep-resep baru, bahkan ada yang asik dengan mesin jahit baru. Bahkan banyak dari mereka ini yang kemudian mendapatkan penghasilan dari hobi yang mereka tekuni selama pandemi. Lalu kenapa kita harus worry? Khan ada Allah!

Semua hal ada masanya. Saya yang shock di awal-awal pandemi, diikuti stress sampai lewat tengah tahun, lalu belajar menerima di bulan-bulan berikutnya, ahamdulilah bisa kembali optimis di penghujung tahun. Saya ingin kembali ceria, semangat, optimis dan bisa berkarya dengan bahagia. Ah…, sungguh saya rindu diriku yang dulu.

Bismillah aja, Selamat datang 2021, I’ll be back!

Lembah Nirmala
Di pergantian 2020 ke 2021

«

»

6 COMMENTS

  • Nefertite Fatriyanti

    Aku kok mbrebes mili ya baca tulisan Mba Donna, serasa sedang melihat sebagian diriku, ahaha, cengeng bener nih.
    Ngga mudah memang menerima situasi ini ya, tapi kata orang life muat go on 😊.
    Akupun baru akhir-akhir ini muncul niat kuat buat menulis lagi Mba, termasuk nulis blog.
    Bismillah ya mba, semoga tahun 2021 lebih hebat segalanya.

  • Ratna

    Closing line-nya mirip dialog filmnya Arnold S “I’ll be back”.
    Yeaaayyyy, you’re finally BACK!
    I told you, writing is in your DNA. You can it throw it away. Kalau sekedar malas, gw juga malesan hahahah!
    But couldn’t agree more. 2020 is surely a turning-point. Sang Pemilik Jagat memang tak terbantahkan. Dan kita pun sekaligi lagi takluk pada mahluk yg even we can’t see it with our bare eyes. Mengingatkan kalau kita selama ini sombong, ya?

  • Een Endah

    bertangan panas sekarang jadi si tangan dingin. sy lihat tanaman tumbuh subur di beranda FB mbak Donna

  • Dedew

    Bersyukur banget bisa kembali membaca tulisan Mbak Donna di blog. Tahun lalu memang nano-nano, sedih tapi banyak yang bisa disyukuri. Aku juga tangan panas yang berhasil menanam hihi proud. Aku pengen punya kuciing huhu…

  • lendyagasshi

    Insightnya bagus sekali, kak..
    Kita gak akan pernah tau makna pandemi bila tidak melewatinya dengan penuh kesabaran, tawakkal dan senantiasa bersyukur atas segala nikmat.
    Barakallahu fiik…

    Semoga sehat-sehat selalu yaa, kak.

  • Yeee akhirnya Bu Guru aktip lagi, selamat datang. Hahaha …
    semuanya mengguncang siapa saja ya pandemi ini, tapi alhamdulillah akhirnya bisa melaluinya dengan kesabaran. Semoga lekas sehat semuanya, dan Indonesia bebas dari covid. Aamiin.

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.