Woman's Thought

You’ll Heal, it Just Takes Time

Sampai suatu hari, apa yang mungkin hari ini menjadi hal terberat dan tersulit yang kita alami, akan menjadi sesuatu yang manis dan hangat diperbincangkan di meja sarapan.

Tulisan ini saya buat setelah melihat tayangan di channel Youtube Deddy Corbuzier yang menayangkan obrolannya dengan Widi Mulia terkait dengan kasus penyalahgunaan narkotika oleh Dwi Sasono, suaminya. Saya larut dalam obrolan itu, dalam setiap rasa yang mampu Widi Mulia sampaikan saat obrolan itu berlangsung. Bukan hanya kerena saya adalah salah satu dari sekian banyak fans The Sasono’s Family, namun juga karena saya jadi ingat beberapa kejadian dalam hidup saya karenanya. Ada beberapa kenangan yang berkelindan, menghadirkan rasa yang mungkin sama rasanya saat itu.

Di akhir obrolan –dengan nada gurau–, Deddy Corbuzier seolah memberi semangat untuk teman yang dikenalnya sejak SMA itu dalam kalimat yang tidak saya ingat secara utuh. Kurang lebih terkandung pesan bahwa bagaimanapun semua sudah terjadi, harus dihadapi dan harus yakin bahwa semua ini dapat dilewati, hingga suatu saat –entah butuh berapa lama—kelak kita akan tertawa bersama sambil duduk santai, menertawakan kebodohan yang pernah kita lakukan saat muda. Dan percayalah itu akan jadi bagian termanis yang akan dikenang bersama.

Saya jadi menoleh ke belakang, banyak sekali kebodohan yang pernah saya lakukan di waktu lampau. Bahkan ada beberapa kebodohan yang kalau diingat-ingat tuh suka bikin gak habis pikir,

“kok loe bisa sebego itu sih, Don?!”

Ternyata memang terjatuh karena salah langkah dalam mengambil keputusan yang berujung fatal itu rasanya gak enak banget, gak ada obatnya. Hanya keinginan untuk berbenah lalu berserah pada waktu untuk menyembuhkan diri menjadi jalan keluarnya.

Juga pada peristiwa-peristiwa di luar kendali kita, mungkin bukan hal-hal yang terjadi karena salah langkah, waktu juga yang akan menyembuhkan. Saya jadi ingat satu peristiwa yang rasa-rasanya kala itu menghancurkan hidup saya banget. Istilah saya untuk rasa ini bagai tercerabut hingga ke akar. Sakit hati banget rasanya bagaimana hidup kita dicederai begitu rupa oleh kolega sendiri yang sudah kerja bareng belasan tahun lamanya lalu saya harus sedemikian struggle menghadapi hantaman badai moril dan material karenanya.

Saat tulisan ini dibuat, peristiwa tersebut sudah berlalu selama lima tahun berselang. Saya masih ingat bagaimana saya begitu terpukul dan harus diam sejenak beberapa waktu lamanya, mengambil napas, mencerna apa yang terjadi. Tekad saya hanya satu,

“Living a good life really is the best revenge. Once they acknowledge that they cannot ruit your happiness they lose their power.”

Saya segera bergerak menuju U-Turn dan berbalik arah. Saya tentukan tujuan-tujuan hidup baru dan ke sana arah hidup saya kemudian menuju.

Saya bersyukur punya keluarga yang selalu jadi support system terbaik dalam hidup saya. Kami berpegangan tangan. Tunas-tunas harapan muncul dari waktu ke waktu, kami pelihara dengan penuh keyakinan hingga kuncup bunga harapan itu kemudian menyembul, merekah indah dan menghasilan buah yang sungguh kami syukuri kini. Banyak hal yang setiap kami renungkan bersama, kami menginsyafi banyak hal, bahwa melalui hal-hal tersulit dan terberat inilah Tuhan mengubah hidup kami. Alhamdulillah. Lima tahun berselang, kami belajar sesuatu, hikmah yang nikmat, karena tanpa badai itu kami mungkin tak berproses seindah ini.

Sebagaimana kata Deddy Corbuzier pada Widi Mulia, hal yang ia gambarkan itu dapat kami rasakan. Hari itu pun sampai pada kami.

Betapa hal tersulit dan terberat yang pernah kami hadapi, kini begitu manis disesap, begitu hangat diperbincangkan. Bagai segelas teh hangat dan sepotong bolu pandan di meja sarapan.

Mahasempurna Allah dengan segala rencana-rencana-Nya

 

Tabik, Lembah Nirmala, 23 Juni 2020

#donnametamorphjourney

«

»

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.