Woman's Thought

Jadilah Signifikan, Nak!

Dalam sebuah seminar yang saya ikuti beberapa tahun lalu, lalu saya mencatat sebaris kalimat dari salah satu pembicara. Kalimat yang ia kutip dari J.C. Maxwell, seorang tokoh motivasi dan pengembangan diri favorit saya. Ia bilang,

“kami tidak memilih jalur sukses namun kami memilih jalur signifikan”

Sungguh saat itu saya tak paham apa makna kata signifikan yang ia maksud, saya hanya sering menggunakan kata itu dalam konteks pekerjaan saya atau dalam riset bahwa signifikan pada data percobaan yang signifikan itu artinya berbeda nyata hehehe.

Belakangan, dari salah satu bukunya Maxwell juga, saya menyimpulkan secara sederhana bahwa ada perbedaan mendasar antara sukses dan signifikan. Sukses bagi seseorang adalah kemampuan untuk memberi nilai tambah bagi diri sedangkan signifikan berarti kemampuan memberi nilai tambah bagi orang lain, menyentuh hidup orang lain, sukses bersama orang lain. Itulah mengapa kutipan beliau mengatakan bahwa sukses itu mudah karena hanya memberi nilai tambah bagi dirinya sendiri namun tidak demikian dengan signifikan.

Sejak itu saya mudah membedakan mana orang-orang yang hidup dengan signifikan. Betapa saya melihat banyak orang yang dengan mata fisik terlihat biasa menjadi luar biasa di mata saya ketika saya tahu bagaimana ia mendedikasikan diri dan hidupnya untuk kesuksesan orang lain. Mereka yang memilih untuk menjadi signifikan menggunakan daya yang ia miliki, baik uang, tenaga, pikiran, waktu dan ilmu agar orang lain turut berdaya. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak ingin sukses sendirian, orang-orang yang sukses karena membuat orang lain sukses.

Teringat ajaran yang saya yakini kebenarannya bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Saya mencoba mengikat ajaran ini erat di setiap langkah saya. Jika sebuah cita dikejar hanya demi uang, jabatan, kekuasaan atau mungkin pujian dari manusia tanpa saya tahu apakah semua itu bisa membuat saya melakukan sesuatu atau menghasilkan sesuatu yang bermanfaat buat orang lain, saya akan perlahan mundur dari jalan itu.

Saya ingat bahwa saya dulu punya cita-cita untuk menjadi seorang pembicara terkenal, berdiri di atas panggung dengan lampu sorot di hadapan ratusan orang. Motivasinya ya karena merasa itu keren dan bikin terkenal. Pengen masuk media dan mendapat pujian. Yang saya pikirkan adalah bagaimana caranya bisa sekeren itu. Alhamdulillah ya gak kesampaian juga hahaha. Kemudian dalam sebuah renungan saya menyadari bahwa mungkin ada yang salah dengan tujuan saya sehingga impian saya tidak pernah terwujud.

Namun uniknya, justru setelah itu kesadaran itu muncul, Tuhan turut campur dengan cara-Nya. Satu per satu pintu terbuka, dari workshop-workshop kecil yang bertujuan agar ilmu yang saya miliki bisa bermanfaat bagi orang lain, saya akhirnya bertemu juga dengan impian yang justru sudah saya lupakan. Dalam beberapa kesempatan, saya bisa melihat diri saya di atas panggung besar, di ballroom mall terkenal di Jakarta, di hadapan ratusan orang dengan lampu sorot mengarah ke arah saya.

Hal itu pula yang selalu saya tanamkan pada anak-anak. Saat ini usia mereka sudah memasuki usia dewasa muda, sudah menjadi mahasiswi-mahasiswi dengan jurusan pilihan mereka sendiri. Sepanjang mereka bertumbuh, cita dan impian mereka itu banyak dan sering berubah seiring pertambahan usia dan pengetahuan mereka. Dalam diskusi-diskusi kami, apabila mereka membicarakan tentang cita dan impian terutama dalam mengambil keputusan, pertanyaan yang selalu saya sampaikan ke mereka adalah, “mau bikin apa nak dengan cita itu, bisa bantu orang gak dengan pekerjaan itu?”

Bahkan ketika mereka hendak memilih jurusan di perguruan tinggi, pesan saya tetap sama, “pilihlah jurusan bukan karena bisa mendapatkan pekerjaan yang bergengsi, punya uang banyak atau kaya raya. Bila tujuan kalian sudah benar, percayalah atribut-atribut lain akan mengikuti. Bila niatnya baik, maka beragam kebaikan akan mengikuti. Maka di tahap ini, ketika pada akhirnya mereka harus mengambil keputusan, pertanyaannya pun lebih tajam “coba tanyakan pada diri kalian, apa yang akan kalian kerjakan dari ilmu yang akan kalian dapatkan dari kuliah nanti, apa karya yang akan kalian hasilkan yang bisa bermanfaat buat umat?”

Kalau kalian tau jawabannya, “you are on the right track, Nak!” Go ahead, doa Bunda mengiringi langkah kalian

Jadilah signifikan, Nak!

«

»

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.