Woman's Thought

Pertemanan atau Bisnis?

Tulisan ini sebenarnya adalah tulisan tiga tahun lalu. Melihat kembali perjalanan beberapa masa ke belakang, saya menemukan beberapa hal yang bisa saya renungi. Sebagian besar berurusan dengan relationship antar manusia yang berujung pada bagaimana saya harus bersikap di dalamnya. Tahun 2016 adalah sebuah masa pembelajaran yang serius buat saya, dan kemudian menjadi dasar pemikiran untuk melakukan pendekatan yang berbeda di tahun 2017 dan tahun-tahun berikutnya.

Saya termasuk orang yang mudah berteman dengan siapa saja namun termasuk yang picky untuk melangkah ke relasi yang lebih karib. Faktor yang utama adalah kenyamanan berinteraksi. Saya gak peduli  sehebat apa seseorang atau bisa ngasih manfaat apa saja. Selama saya belum menemukan rasa nyaman berada dekat dan berinteraksi, biasanya saya akan tetap mengambil jarak aman. Membina hubungan baik tanpa tendensi apa-apa. Mengalir begitu saja layaknya hubungan antar kenalan.

Asas manfaat gak pernah ada dalam kamus saya untuk sebuah pertemanan, kecuali memang hubungan tersebut sejak awal adalah sebuah hubungan bisnis. Ngeri aja rasanya membayangkan ada dalam sebuah hubungan yang polanya semata berdasarkan kepentingan atau hanya karena ada manfaat yang ingin diraih. Jangan berharap loyalitas apalagi ketulusan di dalamnya. Itulah mengapa sangat mudah mengidentifikasi hubungan yang seperti ini, begitu urusannya selesai, atau melihat peluang lain, atau tak ada lagi manfaat yg bisa diambil, dia akan beranjak.

Namun begitu, toh saya masih saja bodoh dalam hal ini, masih dudul dan sok naif.  Pernah saya berkenalan dengan sosok manis bergaun panjang dan terlihat sholehah, saya jatuh hati dan berteman lebih karib dan punya kerjaan bareng. Tapi ternyata ia menyimpan magma yang luar biasa daya rusaknya. Apesnya kok saya yang mengendus perngkhianatannya dan kena getahnya. Saya bukan hanya ditelikung, bahkan lebih ngeri, ia yang didera ketakutan saya akan membongkar kebusukannya, dengan langkah masif menyebarkan fitnah untuk saya ke banyak circle di dunia maya.

Pernah juga merasakan keseruan dan keasikan punya teman perjalanan, lalu bagai sahabat karib kami jalan bareng di banyak kesempatan hingga bilangan tahun. Tapi ternyata begitulah manusia, katanya tidak ada pertemanan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Ya gak heran ketika ambisi lebih besar daripada peluang, maka pasti urusan pertemanan menjadi nomor dua bagi mereka yang menganut paham ini.  Naifnya saya kok jadi sedih merasa ditinggalkan. Nah, sementara di lain cerita , saya juga pernah merasa begitu dekat dengan satu dua orang, lalu menjadikan mereka teman curhat dan merasa didengarkan. Saya merasa ia teman yang bisa dipercaya, ternyata ketika saya kepleset, ia malah seseruan di lapak sebelah mentertawakan dan mengolok-olok saya hingga ke level kronologis bagaimana saya bisa terpeleset. Keren ya. Saya hanya bisa senyum kecut.

Mengutamakan perasaan demi mempertahankan hubungan baik juga tak selamanya ampuh. Mengutamakan supaya orang lain nyaman berteman dengan kita, bekerja sama dengan kita, demi goal bersama, kadang berbuah pahit juga. Saya menafikan semua ongkos berupa materi dalam sebuah pertemanan. Itu hal yang biasa dan wajar dalam sebuah interaksi antar manusia.  Saya tak pernah berhitung dan tak pandai juga berhitung. Tapi saya akan meradang ketika ongkos yang harus saya bayarkan adalah nama baik dan harga diri. Ia yang kemudian ternyata menukarnya dengan harga yang murah, dan menggores harga diri dan nama baik saya, serta merta saya akan balik badan.

Itulah, sudah setua ini kadang saya bisa begitu naif karena lebih banyak menggunakan hati. Sepenuh hati membina relasi dan percaya bahwa pertemanan adalah paket komplit yang apabila kamu bisa terima hal baik dari temanmu, maka kamu juga bisa menerima kekurangannya. Saya terlalu naif kalau dalam pertemanan kita udah jalan bareng kemana-mana bertahun-tahun, dan bahkan ia sudah tahu hal yang paling gila dari saya, ia tak akan menghapus saya dari daftar pertemanan di media sosial.

Hebatnya orang ini, ketika saya tanya mengapa demikian, ia menjawab karena gara-gara saya sering aplot foto –termasuk foto selfie– dan melihat itu seolah sebuah pencitraan, bukan Donna yang ia kenal katanya. Saya terperangah! Lah…, akun media sosial saya itu terhubung lho dengan bapak, ibu, suami, kakak, adik, ipar, keponakan, mertua, ipar, teman sejawat, mahasiswa, tetangga dan lain-lain. Bagaimana mungkin saya bisa memanipulasi diri demi citra di media sosial? Meski ada bagian yang tidak saya tampilkan di media sosial, tapi saya tidak pernah menggadaikan integritas hanya untuk puja-puji di media sosial.

Oh, come on, Donna! Wake up… sudah cukup segala kenaifan itu. Ketulusan hari gini memang tinggal segelintir, sisanya hanya sebatas dongeng di penghujung malam.

Mendapatkan manfaat dalam pertemanan itu bagus adanya, namun berteman hanya karena ingin memperoleh manfaat, itu bisnis namanya.

 

Tabik

«

»

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.