Woman's Thought

Tentang Rizka

Rizka Farah Diba Dianti

Nama itu  kami sematkan 8 tahun yang lalu, 27 Mei 2001 pada sosok bayi perempuan dengan berat tubuh 3.0 kilogram yang baru saja lahir di Rumah Sakit Haji Pondok Gede Jakarta. Rizka yang berarti rezeki merupakan nama pemberian neneknya  sebagai ganti sebuah cerita penantian 4 tahun hadirnya bayi mungil dalam rumah tangga kami sebagai pengganti kakaknya yang hanya menemani kami selama 9 bulan dalam perut aku, ibunya.

Cukup lama kami menanti kehadirannya. Dalam penantian itu, banyak orang bilang bahwa anak adalah rezeki, dan bila memang seorang anak sudah menjadi bagian dari rezeki kami pasti itu akan kami dapatkan. Jadi saat bayi mungil itu hadir kami sepakat untuk memberi nama depannya Rizka yang berarti rezeki buat kami. Nama itu juga kami berikan dengan penuh harapan bahwa Allah akan selalu memberi limpahan rezeki pada kami sekeluarga di sepanjang hidup. Farah Diba adalah nama pemberian kakeknya sedangkan kata Dianti di bagian belakang merupakan gabungan nama kami berdua, orangtuanya.

Diba kami memanggil namanya, adalah anak perempuan yang sangat “manis”. Lahir saat kami masih tinggal di sebuah perumahan yang terletak di perbatasan antara Bekasi dan Bogor. Saat orang tuanya masih belajar tentang hidup yang ternyata keras. Aku harus meninggalkan Diba sejak usianya kurang dari dua bulan. Kala itu tempat saya bekerja hanya memberi cuti melahirkan sebanyak 40 hari kerja saja. Setiap hari saya harus menempuh perjalanan menuju kampus tempat mengajar dengan turun naik angkot sebanyak 3-4 kali dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam sekali jalan dan tak lupa membawa botol dan pompa ASI supaya Diba tetap bisa mendapat asupan ASI meski ibunya bekerja di luar rumah.

Diba kecil diasuh seorang nenek pengasuh yang kepadanya aku harus mengucapkan ribuan terimakasih karena menjaga Diba seperti cucunya sendiri dengan sangat telaten. Diba kecil gak rewel, tumbuh sewajar anak-anak lainnya, meski harus minum ASI dari botol yang ibunya siapkan setiap hari di dalam freezer. Alhamdulillah Diba tumbuh sehat meski tubuhnya lebih suka tumbuh ke atas dari pada ke samping alias langsing seperti ibunya.

Kala itu Diba tumbuh bersama kesibukan ibunya yang bekerja dari pagi dan baru tiba di rumah malam hari sebelum kemudian kami memutuskan untuk pindah rumah yang sangat dekat dengan tempat saya bekerja demi menyelamatkan waktu yang hilang di jalan. Sadar bahwa kala itu waktu berkualitas kami sangat terbatas, kamipun menanamkan format pendidikan di rumah sejak dini. Diba bersama adiknya tumbuh di atas norma dan nilai,  bukan di atas aturan apalagi disiplin ketat. Sejak kecil yang tertanam di kepalanya adalah “ada bunda atau pun tidak ada bunda, lakukan hal yang memang seharusnya dilakukan.” Bukan karena boleh atau tidak, bukan karena bunda melarang, tapi memang seperti itulah harusnya.

Alhamdulillah Diba tidak merasa perlu untuk berbohong meski berbuat salah, tiap ia melakukan kesalahan dia pasti mengatakan,  “maaf bunda, aku tadi  bla bla bla. Di rumah, kami tidak mengenal adanya hukuman, yang ada hanya kalimat, “kenapa begitu, lalu gimana, ke depannya harus gimana dong” dan Diba terlatih untuk tahu apa salahnya dan bagaimana cara agar kesalahan itu tidak terulang. Pernah suatu hari saya liputan di Banten, Diba main sepeda terlalu jauh dengan teman-temannya. Sadar diri kalau melakukan kesalahan, seketika saya sampai di rumah dia sudah siap melaporkan kesalahannya hehehe. Padahal saya sudah dapat laporan dari sepupu saya yang kebetulan melihat Diba main terlalu jauh.

Diba sangat manis, berpikir lebih dewasa dari teman seumurnya. Saya ingat waktu umurnya sekita delapan tahun, pengasuh kami minggat meninggalkan rumah sejak pagi, meninggalkan Diba dan adiknya begitu saja, sementara saya berada di kampus. Anehnya kakak beradik ini sama sekali tidak memberitahu kami padahal kami pulang malam.

Waktu ditanya kenapa tidak memberitahu, Diba cuma bilang, “aku khan sibuk bunda, aku pulang sekolah tidur, terus bangun-bangun aku ngaji, pulang ngaji aku main sebentar, sholat magrib terus belajar. Aku bisa kok berdua adek aja, gak ada mbak juga gak papa. Ow ow ow!

Diba juga sangat perhatian. Ketika saya belum punya laptop, saya harus mengetik dengan PC home di kamar yang terletak di lantai bawah. Terkadang bila dikejar deadline laporan, itu kerjaan kantor dikerjakan di rumah sampai lewat tengah malam, dan Diba tidak akan beranjak dari samping bundanya sampai aku berhenti mengetik. Terkadang sampai tertidur. Sesekali terbangun dan bertanya, “udah kelar, nda?” Kalo aku jawab belum pasti dia bilang “iya deh, aku tungguin.” Terus dia tidur lagi.

Diba maskulin. Waktu kecil, karena umurnya hanya berbeda 15 bulan dengan adiknya, kami sering membelikannya baju yang motif, warna dan model yang sama sehingga semua orang nyaris mengatakan mereka kembar dan sulit membedakan. Namun, seiring dengan bertambah umur, Diba semakin memperlihatkan personality-nya. Diba ternyata maskulin sementara adiknya feminin sehingga akhirnya ini kami memperlakukan diba sesuai dengan karakternya. Di luar sekolah kami tidak memaksa dia memakai rok karena kami tahu pasti dia tidak nyaman dengan kostum itu.

Ada cerita lucu tentang ini. Kami ingat waktu ada pesta kostum yang di adakan sepupu saat ultah anaknya, aku diprotes berat oleh keluarga karena Ketika Diba turun dari mobil, ia tampil dengan  kostum “Power Ranger kuning lengkap dengan topengnya” hahaha. Pas ditanya, kok anak cewek dipakaikan kostum tersebut, saya cuma bisa jawab, “lha gimana lagi, itu kostum pilihan dia setelah 3 jam keliling-keliling ITC Depok tak ada yang cocok baginya kecuali ini. Kostum itu bertahun-tahun menjadi andalan pakaiannya yang bolak balik dipakai di rumah. Cuci, kering, pakai, begitu terus sampai akhirnya kekecilan.

Diba sangat friendly, mudah dekat dengan siapa saja dan selalu berpikir positif sehingga dia tidak pernah segan berbaur dengan siapa pun bahkan dengan teman dan karyawan-karyawan di kantor bundanya. Tidak pernah ragu berada di tempat yang bahkan asing atau baru sekali di datangi. Jadi dia enjoy saja diajak kemana pun dan menikmati saja apa yang dia temui.

Diba sangat penyayang, mudah tersentuh, gampang iba dan sering kali melakukan banyak hal yang membuat aku terharu. Namun Diba terlatih untuk tidak cengeng dan gampang menangis apalagi cuma karena jatuh atau diganggu teman. Kami mengajarkan dia  untuk punya rasa percaya diri dan fight untuk menjaga pride-nya. Kami  terbiasa untuk tidak menangisi hal-hal yang tak perlu ditangisi. Tapi suatu hari, waktu kami ngobrol lagi tentang hal itu,  Diba bilang “tapi aku pernah lho liat bunda nangis, waktu aku sakit khan?! Pasti bunda sedih ya kalo aku sakit?” Oalah naaaaak, tentu saja sedih.

Diba sejak kecil pandai berkomunikasi. Untuk meminta hal yang dia inginkan, pasti ada intro-nya, makin besar makin pandai membuat kalimat pembuka, “bunda capek gak?, bunda udah gajian belum?, bunda besok bisa ijin gak kerja gak?, bunda besok kuliah gak? bunda besok sempet gak? Baru deh dia menyampaikan permintaannya. Diba hapal tiga kalimat andalan yaitu kata minta tolong, maaf dan terima kasih.

Aku menyimpan banyak “surat cinta” dari Diba kecil yang sering dia letakkan di meja kaca ruang tamu agar mudah aku lihat kalau aku pulang kerja saat dia sudah tertidur. Kalimat-kalimatnya sungguh membuat kita merasa berarti dan membuat hati ini meleleh. Bahkan bila surat itu isinya sebuah permintaanpun pasti tetap membuat kita tersenyum.

Ah, tidak ada habisnya membicarakan malaikat kecilku yang kini telah menjelma menjadi perempuan jelang dewasa muda berusia 19 tahun, malaikat kecilku yang dulu selalu ada di depan pintu setiap malam saat aku pulang kerja, dengan segelas air putih di tangan dan sebaris kalimat yang sama “apa bunda capek?” Sekarang ritual itu tidak ada lagi seiring dengan perubahan ritme kerja ibunya, namun berganti dengan pertanyaan, “bun, mau aku bikinin teh gak?” di waktu-waktu tertentu. Dan bagi saya hanya Diba di rumah ini yang paling tahu takaran pas antara teh dan gula yang digemari bundanya. Teh buatan Diba is the best!

Tulisan di atas sebenarnya adalah tulisan yang saya ambil dari tulisan di tahun 2009, saat Diba berulang tahun ke-8. Lalu tulisan ini saya tulis ulang di hari ulang tahun Diba ke-19.  Tak banyak yang berubah dari seorang Diba selama 11 tahun dari sisi karakternya, hanya saja saya makin menyadari bahwa di banyak hal ia punya banyak kemiripan dengan saya yang introvert. Mudah berteman tapi tetap asik kala sendiri. Suka bergaul tapi tetap nyaman di rumah. Menjauhi konflik tanpa harus kehilangan kesempatan untuk maju. Tumbuh dengan caranya yang mungkin beda dan tidak merasa terhambat karenanya.

Diba suka melakukan banyak hal, mudah terdistraksi dan sering gak fokus karenanya. Susah menolak kerjaan meski kemudian kepayahan sendiri. Tapi satu hal yang tak berubah ialah kegigihannya menekuni bidang yang ia mau. Saat anak-anak seumurnya masih berlangganan majalah anak-anak, ia sudah berlangganan majalah Cinemag. Sejak sekolah menengah pertama ia sudah bisa membuat review film dan ketika sekolah menengah atas dia sudah menjadi bagian dari redaksi di kegiatan extra kurikuler media dan komunikasi dan menulis untuk majalah sekolahnya.

Menjadi sineas adalah impiannya, membuat film-film berkualitas menjadi impiannya. Gagal merayu bunda untuk kuliah di IKJ, Diba dealing dengan kami untuk fokus mengejar jurusan broadcasting UI. Kami yang tadinya berharap ia mengambil strata satu harus bersedia bertemu dengan keinginannya di tengah, yaitu di pendidikan vokasi.

“Khan aku juga mengalah dengan gak ambil kuliah IKJ atau kuliah ke Bandung yang bakal jauh dari Bunda”, begitu argumennya.

Kami merestuinya, dan alhamdulillah Diba diterima di jurusan pilihannya melalui jalur undangan. Sejauh ini, kami bahagia melihat ia antusias menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa, meski kadang kami khawatir karena Diba jadi lebih sering begadang. Kalau udah gitu mulai deh alerginya kambuh dan batuk-batuk. Jaga Kesehatan dong, Nak!

Di ujung fase teenager ini, tubuh Diba makin tinggi dan tetap tidak melebar ke samping alias kurus tinggi dan langsing. Ukuran sepatunya jauh melampaui kaki saya, begitu juga tinggi badannya. Dan yang jelas Diba juga semakin dewasa, sudah jadi mahasiswa tingkat satu semester akhir, sudah mau tingkat dua. Sudah semakin mandiri dan bisa jaga diri. Bahkan sudah memposisikan dirinya sebagai guardian angel ibunya. Diba yang paling jago “puk puk” ibunya dan tahu gimana managing ibunya yang OCD ini. Diba bersama adiknya kini adalah sahabat saya, teman yang paling asik untuk diajak berdiskusi dan mengambil keputusan dengan argumen-argumennya yang kerap membuat saya amazing.

Terimakasih Tuhan atas titipan manis- Mu padaku, semoga kami bisa menjaga amanah ini dengan baik. Namun aku yakin, tak mungkin aku menjaganya tanpa campur tangan-Mu. Jadikan dia perempuan sholehah ya Allah, tumbuh sehat, cerdas dan berilmu, mampu memberi dan bermanfaat bagi orang lain. Semoga Engkau senantiasa  membimbing ia di setiap langkah untuk melakukan banyak kebajikan dan terjaga iman Islamnya, agar tetap menjadi hamba-Mu yang setia sampai akhir zaman. Aamiin Allahumma Aamin

Lembah Nirmala, 27 Mei 2020

 

«

»

2 COMMENTS

  • Haryadi Yansyah

    Jadi keinget obrolan di mobil saat jalan di Lampung. “Diba itu sama kayak kamu Yan, sukanya nonton film, beli-beli majalah film.” *cmiiw.

    Semoga cita² Diba tercapai. Gak sabar nunggu karya Diba. Siapa tahu bakalan jadi the next Mouly Surya atau the next Kathryn Bigelow, amiiin.

    • Donna Imelda
      AUTHOR

      iya, kesukaannya sama dengan Yayan, terima kasih doanya ya, Kak Yayan, aamiin allahumma aamiin

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.