Search here...
TOP
Destination

Destinasi Wisata Favorit Jember Sueger Famtrip 2019 #2

Masih ingat cerita saya mengunjungi destinasi wisata favorit Jember dalam Sueger Famtrip 2019 bagian pertama? Nah yang belum atau ingin yang ingin membaca kembali bisa klik tautan ini ya, Destinasi Wisata Favorit Jember Bagian 1.

Nah ini bagian keduanya.

  • Waton Parade 2019, Lestarikan Budaya Lokal Masyarakat Jember

Bagi saya yang pertama kali ke Jember dan belum mengenal banyak budaya Kota Tembakau ini, istilah WATON PARADE 2019 adalah istilah baru buat saya. WATON sendiri merupakan singkatan dari Watu Ulo Pegon dimana Pegon itu sendiri adalah istilah yang digunakan masyarakat lokal untuk alat transportasi pedati yang ditarik dengan dua ekor sapi. Alat transportasi ini bisa digunakan untuk membawa hasil bumi atau pertanian atau bisa juga digunakan untuk alat angkut penumpang atau manusia.

Pegon parade ini dirayakan pada tanggal 23 Juni 2019 di sekitar Pantai Watu Ulo, itulah mengapa kemudian Pegon Parade ini dinamakan Watu Ulon Pegon Parade 2019 yang kemudian disingkat dengan nama WATON Parade 2019. Letaknya tak jauh dari Pantai Tanjung Papuma tempat kami menginap, masih di garis pantai yang sama sehingga hanya perlu beberapa menit saja menyusuri pantai dengan menggunakan kendaraan roda empat.

Saya melihat kegiatan ini layaknya sebuah perhelatan pesta rakyat yang disambut dan diikuti dengan antusias oleh masyarakatnya. Tua maupun muda, anak-anak maupun orang dewasa, lelaki atau perempuan, semua berbondong-bondong datang bersama sahabat atau keluarga. Mereka datang  dari berbagai penjuru, bukan hanya yang tinggal di sekitar Watu Ulo tapi juga berdatangan dari daerah-daerah lain di sekitar Jember. Sungguh sebuah pesta rakyat yang meriah dan dapat dijadikan destinasi wisata favorit di Jember setiap tahun.

Antusiasme masyarakat bukan hanya terlihat dari banyaknya masyarakat yang hadir namun juga dari banyaknya masyarakat yang mengikuti lomba menghias Pegon, setidaknya saya melihat ada 60 nomor tempat lokasi pegon-pegon ini “parkir” setelah berparade. Setiap pegon mengangkut 8-10 penumpang tergantung kapasitas tiap pegon. Nah, Pegon bernomor parade 1 adalah Pegon yang ditumpangi oleh Bupati Jember, Ibu dr. Hj. Faida, MMR dan sang suami ditemani beberapa pejabat dari Dinas Pariwisata Jember.

  • Romansa Masa Lalu di Kampung Kopi Rayap, Jember

Saya seolah memasuki lorong waktu saat menginjakkkan kaki di Kampung Kopi Afdeling Rayap. Setidaknya ada tiga tempat yang menarik perhatian saya saat berada di tempat bernuansa vintage ini, yaitu Café Kampoeng Kopi Afdeling Rayap, Villa Koffie Afdeling Rayap dan Pabrik Kopi Afdelling Rayap.  Bagi yang menyukai tempat dingin dan jauh dari hirup pikuk atau ingar bingar kota dan menyukai suasana tempo doleoe, maka Afdeling Rayap adalah tempat yang tepat untuk itu.

Café Kampoeng Kopi Afdeling Rayap terletak di area depan di ujung muka jalan menuju vila. Dengan lokasinya yang berada di depan, maka tempat makan dan minum ini bisa dikunjungi tidak hanya oleh tamu yang menginap di vila namun juga bagi mereka yang hanya sekadar singgah untuk menikmati makanan dan minuman. Pengunjung bisa menikmati suasana kebun kopi yang nampak dari kejauhan sambil diiringi musik alam berupa suara gemericik aliran sungai yang berada persis di seberang jalan.

Masih di jalan yang sama beberapa ratus meter ke muka, melewati jalan berbatu yang diapit pepohonan kopi dan pinus di kiri kanan jalan, pengunjung akan tiba di Villa Koffie Afdeling Rayap. Bangunan lama bergaya vintage ini bisa digunakan untuk para pengunjung menginap. Kapasitasnya cukup besar, dari 5 kamar yang tersedia villa ini bisa menampung hingga 30 orang tamu dengan harganya hanya 1.500.000 ribu rupiah saja. Seru khan bisa reramean refreshing dengan harga sehemat ini. Halaman vila cukup luas, sejauh mata memandang suasana asri dan hijau terlihat menyejukkan jiwa.

Kami memang tak sempat menginap di Villa Koffie, tapi sempat menikmati aktivitas yang paling menarik di tempat ini yaitu Wisata Edukasi Kebun Kopi. Jadi dalam kegiatan ini, pengunjung akan diajak ke kebun kopi Robusta Rayap dan belajar dengan melihat langsung tanaman kopi sambil dijelaskan informasi penting tentang kopi, dan melihat pula peralatan dan proses pengolah kopi dari  biji segar pasca panen  hingga menjadi  biji kopi yang siap diolah lebih lanjut menjadi minuman.

Di tempat ini kampi juga sempat belajar bagaimana uji kopi yang dihasilkan oleh Kebun Renteng PTP Nusantara XII di ruang Cup Test Pabrik Kopi Rayap. Ada uji aroma dan tentu juga uji rasa. Bagi mereka yang sudah ahli dan berpengalaman, uji organoleptic ini akan menunjukkan bagaimana kualitas kopi yang dihasilkan dari proses di pabrik dan bisa mendeteksi bila ada proses yang tidak sesuai –misal pada proses sangrai– sehingga  hasilnya tidak mencapai baku mutu kopi yang diinginkan.

  • Hotel Rembangan

Sepulang dari Kampeng Kopi Afdeling rayap, kami pun bergerak menuju daerah Rembangan yang merupakan dataran tinggi mirip dengan daerah puncak Cianjur atau Bogor. Sesuai rencana, seluruh peserta Sueger Famtrip 2019 akan menginap di sini, di Hotel Rembangan. Hotel ini memang hotel lama namun masih terawat. Dari banyaknya tamu yang menginap meski bukan di akhir pekan menunjukkan bahwa hotel ini masih menjadi hotel rujukan untuk menginap di daerah Rembangan.

Ukuran kamar yang dimiliki Hotel Rembangan cukup luas, terutama kamar yang kami tempati. Letaknya berada di sisi kiri bangunan utama hotel dan menghadap ke taman yang luas dengan pemandangan perbukitan dari kejauhan. Setiap kamar bahkan masih bisa memuat extra bed ukuran queen sehingga memungkinkan setiap kamar dihuni oleh empat orang. Setiap kamar juga dilengkapi dengan kamar mandi di dalam, air panas dan ruang duduk serta televisi berwarna.

Satu hal yang memorable buat saya adalah menu makanannya yang enak dan suasana makan yang menyenangkan. Kita bisa memilih tempat makanan dengan pemandangan kolam renang atau memilih di halaman samping dengan pemandangan perbukitan. Saat pagi hari, tamu bisa memilih beranda restoran untuk menikmati sarapan sambil memandang kolam renang dan taman yang luas sambil menghangatkan diri dengan sinar matahari pagi. Tempat ini memang menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Jember sebagai tempat refreshing dan menginap.

Nah, saat malam hari, sangat menyenangkan bila menikmati hidangan dan minuman hangat di halaman dengan penerangan lampu-lampu pijar yang dirangkai sedemikian rupa di area halaman tempat makan yang memberikan suasana yang sangat romantis. Malam itu kami berlama-lama berada di sana meski makan malam telah selesai. Saking asiknya berbincang sambil menikmati minuman panas dan camilan khas cuaca dingin seperti pisang goreng atau ubi goreng yang kami pesan malam itu, hampir sebagian besar dari kami tidur larut malam.

  • Museum dan Perpustakaan Tembakau

Tak lengkap tentunya bila kita tidak mengenal lebih dalam tentang Tembakau saat kita justru berada di kota yang mendapat julukan sebagai Kota Tembakau. Salah satu tempat yang tepat untuk mengenal tembakau adalah Museum dan Perpustakaan Tembakau yang berada di lokasi yang sama dengan Unit Pelayanan Terpadu Pengujian Sertifikasi Mutu Barang Lembaga Tembakau (UPT-PSMB-LT) Jember. Tempat ini memiliki beberapa fasilitas seperti laboratorium pengujian mutu, barang dan inspeksi, kalibrasi peralatan, sertifikasi produk Penggunaan Tanda SNI, Tempat Uji Kompetensi, serta sebagai pusat informasi dengan keberadaan museum dan perpustakaan Tembakau di area yang sama.

Sebagai bagian dari Tobacco Information Centre, Museum dan Perpustakaan Tembakau yang letaknya di Jalan Kalimantan Nomor 1 Jember, memberi informasi sedemikian banyak tentang tembakau, bukan hanya mengenai sejarah tembakau dan perkembangannya, tapi juga hingga mengenai diversifikasi tembakau, hingga manfaat positif tembakau selain untuk bahan cerutu dan rokok sebagai upaya dalam melestarikan tembakau sebagai komoditas spesifik warisan budaya bangsa di Jember. Pas banget untuk jadi destinasi wisata favorit di Jember.

Bila diukur dengan satuan luas, Museum dan Perpustakaan Tembakau ini tidaklah terlalu luas namun sungguh sarat informasi. Menikmati keberadaan museum ini tak bisa hanya dari perspektif visual atau sesuatu yang indah untuk dipajang di etalase media sosial, namun ada kegelisahan yang cukup mendalam tentang keberadaan tembakau dan petani tembakau  itu sendiri. Apalagi kalau kita merunut dari perjalanan sejarah bagaimana tembakau begitu berharga sehingga diberi julukan Daun Emas dan pernah Berjaya sebagai penghasil Daun Tembakau terbaik dunia nomor dua setelah Kuba.

BIN Cigar Factory

Setelah berkunjung ke Museum Tembakau, kami juga sempat mengunjungi BIN Cigar Factory yang terletak di Jalan Brawijaya No 5, Jubung. BIN Cigar adalah kependekan dari Boss Image Nusantara (BIN) Cigar nama perusahaan penghasil cerutu kelas dunia. Uniknya, bahan baku daun tembakau yang mereka gunakan adalah hasil kebun mereka sendiri dengan asal varietas dari Kuba yang berhasil mereka budidayakan dan mereka tanam di Jember. Sebagai penghasil cerutu terbaik nomor satu dunia, Kuba memang menjadi rujukan kualitas sebuah cerutu begitu juga metode fermentasi dan pembuatannya.

Kami memang tak sempat mengunjungi kebun tembakau mereka. Namun ada yang sangat menarik perhatian saya saat berkunjung di BIN Cigar Factory yaitu sebuah ruang terbuka tempat sejumlah perempuan yang asik membuat cerutu. Ternyata seluruh proses pembuatan cerutu di BIN Cigar Factory masih dilakukan secara manual lewat tangan-tangan telaten dan terampil perempuan-perempuan yang sebagian besar berkain kebaya ini. Datang deh, dan lihat bagaimana cerutu-cerutu ini dibuat.

Selintas terlihat mudah, namun percayalah setelah kalian mencoba kalian baru merasakan bahwa perlu jam terbang untuk memiliki keterampilan menghasilkan sebatang cerutu yang baik. Dari memilah daun tembakau yang mulus dengan warna yang sesuai, memisahkan daun dari tulang daun, menggulung, hingga membalut dan proses penyempurnaan balutan hingga terwujud sebuah cerutu yang paripurna sesuai standar.

Nah bagi kalian yang ingin mengetahui bagaimana proses pembuatan cerutu secara lengkap dan langsung, jangan lupa masukkan Museum Tembakau dan BIN Cigar Factory dalam daftar destinasi wisata favorit saat berkunjung di Jember.

  • Warung Nasi Pecel Gudeg Lumintu Jember dan Kafe Kolong

Rangkaian kunjungan dalam kegiatan Sueger Famtrip 2019 sebenarnya berakhir setelah kunjungan ke BIN Cigar Factory. Namun ternyata kami masih sempat menikmati makan siang di salah satu warung nasi legendaris dan terkenal karena menunya yang unik yaitu Pecel Gudeg Lumintu. Sesuai dengan namanya menu itu memang paduan antara pecel dan gudeg, rasanya sedap dengan sentuhan rasa manis. Meski menunya sederhana tapi larisnya bukan main, jadi pastikan kalian datang sebelum jam dua siang ya kalau gak mau kehabisan.

Setelah makan siang bersama, sebagian besar dari kami pulang ke kotanya masing-masing, namun sebagian lagi masih tinggal di Jember, karena jadwal keberangkatan kereta api yang membawa kami ke kota asal terjadwal esok pagi. Dan lagi-lagi bagai masih ingin berkumpul, malam harinya kami  lagi-lagi diajak makan bersama oleh pihak Dispar. Tempatnya tentu saja tempat hangout yang kekinian dan menjadi aikon kota Jember yaitu Kafe Kolong.

Sesuai namanya memang kafe ini berada di kolong jalan raya, namun didesain sedemikian rupa sehingga unik dan menarik, bersih serta nyaman. Jauh dari kesan kolong jalan atau kolong jembatan yang kumuh dan kotor seperti yang selama ini sering kita lihat sehari-hari. Menunya juga lengkap dan harganya terjangkau, ada life music yang menemani kita makan dan berkumpul sehingga menimbulkan rasa betah. Kalau kalian ke Jember, wajib deh hangout di salah satu destinasi wisata favorit di Jember ini.

Tunggu kami kembali ya!

Destinasi demi destinasi favorit di Jember dalam Sueger Famtrip 2019 telah kami kunjungi. Meski masih banyak destinasi lain yang belum sempat kami kunjungi tapi kami tak berkecil hati, biarlah itu menjadi alasan kami untuk kembali. Karena tiga hari berada di sini, Jember berhasil membuat saya jatuh hati.

Tunggu kami kembali ya…

Ayo Pelesiran ke Jember!

 

TAGS

«

20 COMMENTS

  • winda - dajourneys.com

    lomba menghias pegon itu apa ya mbak? semoga lain hari bisa kembali ke jember dan menjelajahi sudut kota lainnya ya, amin!

  • Demia KamiL

    Omaygaaaat, Warung Nasi Pecel Gudeg Lumintu Jember dan Kafe Kolong nya itu menggoda sekali yaa, pengen banget ke sanaaa, di bandung udah agak susah nih cari pecel sayuran kaya gini, hihi

  • Luella Artistry

    Wah aku sendiri belum pernah sih jalan ke jember.. kaya nya someday wajib kesana jg ya jalan bareng keluarga.. makasig info nya yaah.

  • Ratnasari

    Waahh seru banget liat tempat wisata Jember Sueger Famtrip ini jadi pengen berwisata kesana juga deh bareng keluarga dijamin seruuu

  • Tori

    Blum pernah ke jember nih , tp bnyk jg ya tempat wisata buat dikunjungi. Klo ak pastinya mau wisata kuliner jg di jember

  • Suciarti Wahyuningtyas

    Asik banget sih ini ke Jember mbak Dona, aku belum pernah kesana dan jadi kepengen ke BIN Cigar Factory dan wisata edukasi kopinya. Siapa tau nanti ada kesempatan main ke Jember bisa mendatangi destinasi ini ya.

  • artha

    saya udah pernah ke Wisata Edukasi Kebun Kopi. Saat itu rombongan dg teman2 dan katanya ini wajib dikunjungi kalau ke Jember. sayang kami belum mampir ke museum tembakau nih

  • Rach Alida

    Mba DOnna, nasi pecel gudeg itu dua menu yang berbeda kan ya? Kalo ga salah di Banyuwangi yang ada rujak soto gitu deh yang disajikan di satu menu. Udah lama sekali aku ga ke Jember dan pengen juga suatu saat ke sini

  • Andiyani

    Menu-menu dinner warung gudeg pecel luminta menggoda iman, rasanya mau nambah aja hahaha

  • Lily Kanaya

    Kayaknya bakal seru bisa berkunjung ke pabrik cigar, pengen nanya langsung kenapa cigar harganya mahal banget 🙂

  • Andiyani

    Menu-menu di warung gudeg pecel luminta menggoda iman, rasanya mau nambah aja hahaha

  • Leyla Hana

    Asyik juga ada pesta rakyat begini ya. Komplit banget jalan-jalannya, Mba Donna. Menambah wawasan adat dan budaya.

  • Uniek Kaswarganti

    Nyenengin ya mbaa jalan-jalan di Jember waktu itu. Seneng banget bisa ketemu Mba Donna setelah lama tak bersua.
    Sayang nih, aku belum ikutan yang ke Kopi Kolong. Ternyata bagus juga tuh tempatnya.

  • Grandys

    Seneng banget mba bisa ikutan sueger fam trip ini. Liat fotonya dan destinasi nya super cucmey

  • Mpo Ratne

    Wah ternyata museum itu memyenangkan. museum tembakau banyak Cara membuat tembakau pantas saja harga cerutu Mahal . kota mas anang pastinya banyak potensi wisata yang bisa di kunjungi

  • Elva Susanti

    Seru banget yaaa pastinya. Jadi pengen ajak suami jalan2 kesana juga. Mau nyobain juga Nasi Pecel Gudeg, soalnya saya suka banget makan pecel. Ngomonginnya aja udah bikin ngiler

  • Vindy Putri

    Hai, Mbak.. aku juga blogger Jember loh hehe.. sayang kita nggak ketemu. Karena saya lagi pasif di komunitas. Pas banget itu saya baru melahirkan hehe… kalau nggak ada halangan pasti kita bertemu 😀

  • nyi Penengah Dewanti

    Seru! Aku tahun lalu ikutan ini Mba hehehe
    sekarang giliranmu jadi angkatan kedua. Jember selalu ngangenin ya Mba
    Pantai Papuma sungguh indah, apalagi ke Bin Cigar ya seru

  • Desy Yusnita

    Jember adalah kota yang ingin aku kunjungi deh Mba. Apalagi pas Jember Fashion Week itu. Pengen lihat meriahnya. Trus ternyata disana lengkap ya, petani kopi ada ya temennya ngopi alias tembakau juga ada.

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  • Pingback: DESTINASI WISATA FAVORIT JEMBER DALAM SUEGER FAMTRIP 2019 (Bag: 1) - Travelecturer on July 14, 2019
    • Sometimes you just have to jump out the window and grow wings on the way down.
~Ray Badburry~
    • Merindu hidup tanpa sekat....
    • Quote ini klise banget sih tapi tetap jadi favorit aku, katanya gini,
. 
Life is like a camera. Just focus on what's important and capture the good times, develop from the negatives and if things don't work out, just take another shot.”
.
.
 As simple as that.
Yekan?!
    • Ini masa-masa gedumbrangan ketika secara maraton tahap demi tahap menuju sertifikasi dosen. Sudah lewat lama memang tapi spiritnya masih terasa.

Kebayang semua tahapan yang harus dijalani dengan rentang waktu yang pendek. Setiap akhir satu fase diikuti dengan perasaan dag dig dug apakah lolos atau tidak ke tahap selanjutnya.

Semangat pun berevolusi, dari skeptis gak bakal lulus karena  beberapa tahun terakhir saya malah asyik traveling, lalu masuk ke fase semangat menggebu harus lulus dan diakhir fase dengan spirit santuy, "lets do the best and God do the rest" Kalau lolos berarti rezeki, kalau gak lolos ya saya traveling lagi hahaha.

Fase paling sulit ya saat harus mengisi semua butir-butir essay yang jumlahnya puluhan dan harus diisi dengan angka minimal sekian ratus kata.  Yang dipikirin sih bukan hanya jumlah kata di setiap butirnya, tapi gimana merangkainya menjadi kalimat yang kalau para asesor itu membaca, ia yakin bahwa saya layak disertifikasi.

Saya lakukan semua dengan penuh apa adanya, saya menolak ide-ide short cut yg bertentangan dengan nurani saya, (biar enak terima duitnya) bahkan semua penilaian sejawat dan mahasiswa mereka lakukan sendiri, meski saya tahu toh sama saja dengan kalau saya isi sendiri pakai akun mereka, karena mereka juga akan memberikan penilaian yang baik buat saya. Tapi saya mau mereka yang lakukan sendiri.

Saya mengatakan dengan jujur bahwa saya kurang dalam publikasi ilmiah selama periode penilaian. Kegiatan penelitian pun  masih bersama mahasiswa, tapi saya melakukan banyak kegiatan di dunia pendidikan, hanya saja karena melalui volunteering saya tidak memiliki sertifikat apapun untuk membuktikannya. Mungkin mereka melihatnya ini adalah bentuk pengabdian masyarakat, entahlah. Untung saya rajin menulis kegiatan ini di blog pribadi, saya masukkan saja url link di setiap butir yang relate.

Saya tak tahu butir mana yang mengimbangi kelemahan saya di bagian penelitian dan publikasi ilmiah sehingga akhirnya sertifikat pendidik bisa di tangan saya dengan sebaris kalimat mengundang senyum di surat pengantar, LULUS!
    • Semalam ketawa2 sama anak gadis @hanifahdianti karena caption yang saya buat di Ig Story.  Caption  yang sama juga yang membuat @raninovariany ketawa melalui DM reply, dan wacana yang sama yang membuat saya dan @nettyamin ketawa2 lewat whatsapp call.

Emang bener sih, keputusan masuk doctoral program itu semacam gak ada kerjaan, lompat dari  kenyamanan lalu mencemplungkan diri ke dalam masalah alias cari-cari masalah.

Udah bener-bener asik dibayar untuk traveling, moto, nulis, malah milih ngabisin 3 hari weekend di kampus, berpening-pening sampe mual memahami metode riset, diberondong tugas yang bertubi-tubi dengan DL ketat, seketat tali bra. 
Itu belum termasuk melototin jurnal sampe mata dah kayak ikan mas koki supaya bisa menemukan novelty untuk bahan disertasi. Itu aja belum keliatan samsek hilalnya sampai sekarang hahaha. Benar2 menambah masalah hidup.

Tapi... ada tapinya kok. Percayalah, istilah "masalah" itu hanya gaya2an kalau lagi hectic sama tugas kampus. Pastilah ada manfaatnya belajar, pasti ada manfaatnya sekolah lagi. Sekarang aja udah mulai bisa memetik hal-hal kecil karena kesibukan baru itu. Minimal  memetik hikmah, jadi punya pengetahuan baru, punya banyak harapan baru, ide-ide baru yang bakal seru nantinya.

Santai aja soal ngetrip, tanah2 impian itu akan tetap ada di koordinatnya masing-masing, tapi momentum tidak demikian. Ia bergulir meninggalkan saya bila tak bersambut. Bagi saya saat mengambil keputusan sekolah lagi, ini memang adalah waktu yang tepat untuk sekolah. Momentum yang paling pas untuk naik ke tangga berikutnya setelah menunda rencana ini selama 5 tahun. (Iyaaa.... menunda selama itu hehehe)

Pikiran saya sederhana aja sih, traveling can wait. Bisalah sambil kuliah curi2 waktu untuk short trip atau traveling saat end year trip yang liburnya agak panjangan. Soal rezeki mah insya Allah ada aja dari pintu lain. Salah satu hikmahnya ya mungkin ini, saat semua harus freezing karena Covid-19, dan banyak rencana yang harus di-reset, saya merasa sudah on the right track meski #diRumahAja. Semoga fit in ya dengan rencana Allah.

So... mari kita selesaikan apa yang sudah kita mulai.
    • Bila Rindu

Tunggu aku di warung kopi itu ya, kita berbincang tentang banyak hal, tentang kita, tentang rindu, tentang hal yang hanya bisa disampaikan saat sua
    • Selamat ulang tahun sahabat kesayangan akuh,  my partner in crime,  my best navigator, my guardian angel, my soulmate, the best travelmate ever @nettyamin

Semoga Allah memberkahi umurmu,  memberimu sehat,  bahagia, sejahtera dan mengabulkan segala harapan dan doa.  Selamat dunia akhirat dan lancar segala urusan termasuk urusan perjodohan ya hehehe.  Aamiin

Selamay ulang tahuuuuuun, yeaaaaaaaaaay!!!
    • Alhamdulillah Jakarta hari ini cerah banget, berharap semoga Covid-19 gak betah di Indonesia.

Aku sih masih asik #diRumahAja, #WorkFromHome, nyiapin materi ngajar selang seling dengan ngerjain tugas kuliah, ngeriung sama anak gadis yg juga sibuk dengan kuliah daringnya. Kerasa sih makin siang makin hangat cuaca dan butuh yang segar-segar. Si kakak mah berasa pengen es kopi tapi aku pengen yang lebih segar yang non coffee.

Andalan pas karantina mandiri begini ya gofood lah atau pesan antar. Kali ini aku pesan minuman ke @cawankopi yang gak terlalu jauh dari rumah. Pilihannya banyak dan signature menunya semua menarik buat aku dan anak-anak.

Ssst tau gak kalau owner-nya ini mahasiswa Teknik Kimia lho, pantesan ada yang menarik saat pertama liat kemasannya. Aku sampe senyum liatnya,  selain logonya yang mengingatkan aku sama tabel periodik, plus nama-nama minumannya, ada Catalyst, Bacillus, Acuminata dan nama2 minuman lainnya yang familer dengan para penikmat kopi.

Siapa bilang anak teknik gak bisa berbisnis. Keren ya!

Sluuurrrpppp