Search here...
TOP
Destination

Telusur Pantai di Sorong dalam Sehari

Pantai  di Sorong jumlahnya banyak sekali apalagi bila kita mengarahkan kendaraan ke arah Tanjung Kasuari. Setidaknya ada tiga pantai dan Pantai Tanjung Kasuari hanyalah satu di antara pantai-pantai lain yang kebetulan kami lewati yaitu Pantai Mooi dan Pantai Soako yang berada di garis pantai yang sama.

Ada perbedaan yang cukup nyata di antara ketiganya dan memberi kesan masing-masing. Pantai Mooi yang pertama kami kunjungi adalah pantai yang sudah dibangun sebagai tempat rekreasi lengkap dengan taman dan kolam buatan. Sedikit kehilangan kealamiahannya karena pembangunan fasilitas pendukungnya tersebut,  namun tetap bisa dinikmati untuk duduk-duduk berbincang menikmati suasana dan tiupan angin pantai.

 

Untuk masuk ke sini setiap pengunjung harus membayar dua puluh ribu rupiah, jumlah yang menurut saya cukup besar dan tak sepadan dengan apa yang kita dapatkan kecuali suasana pantai dan fasilitasnya. Meski tempat ini rapi, bersih dan tertata, namun tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sini. Pantainya agak jauh dari area santai dan kolam di sekitarnya sedang surut pula.

Pinggiran pantai yang berada di ujung dan matahari yang sedang terik membuat kami enggan bermain-main di pantai. Sebagian besar area dipakai untuk restoran dan kami belum lapar. Alhasil saya dan teman-teman hanya duduk-duduk di bangku kayu di area taman sebentar, berfoto, lalu meninggalkan lokasi.

Dari Pantai Mooi kami bergerak ke arah yang lebih jauh ke arah Tanjung Kasuari. Namun kami sempat singgah di sebuah pantai yang kami sebut dengan Pantai Soako karena letaknya yang berada di daerah Soako. Bibir pantai letaknya tak jauh dari daratan, sehingga kami hanya perlu jalan beberapa langkah saja sudah bisa bermain air.

Pemandangan yang cukup cantik membuat kami lebih banyak berfoto dibanding saat di pantai sebelumnya. Sherly dan Yani terlihat antusias berfoto, begitu juga Deff dengan mengatur self timer pada kamera terlihat asik berfoto dengan berbagai gaya olahraga, dari push up hingga akrobatik. Sedangkan Gibran sudah mulai mengatur lokasi untuk menerbangkan drone dan Indra akhirnya ikut berfoto meski sesekali.

Tak ada pos penjagaan tiket masuk untuk masuk ke tempat ini, namun retribusi tak resmi tetap dikenakan kepada kami saat kami lagi asik duduk dan berfoto. Tak terlalu besar memang, apalagi dibanding entrance fee di Pantai Mooi. Pemuda yang katanya mewakili mama pengurus tempat ini hanya meminta 20 ribu rupiah saja untuk rombongan kami yang berjumlah tujuh orang bukan per orang seperti di Pantai Mooi.

Matahari yang masih terik membuat kami tak ada yang turun ke air untuk berenang. Kami hanya sibuk seseruan berfoto dan berbincang bersama. Puas seseruan di sini, rasa haus mulai terasa, sebutir kelapa muda sepertinya segar bila diminum airnya. Kamipun memutuskan beranjak dari tempat ini dan melanjutkan perjalanan ke pantai berikutnya sambil mencari penjual kelapa muda.

Pilihan ini adalah pilihan terakhir yaitu Pantai Tanjung Kasuari. Ini adalah pantai yang luas dan sudah dikelola oleh penduduk setempat. Suasana di pinggir pantai nyaman dan teduh karena banyak pohon-pohon besar yang tumbuh. Duduk-duduk di bawah pohon langsung membuat perasaan kami ikut teduh. Pantai Tanjung Kasuari sangat landai dan airnya sangat tenang, cocok sekali untuk berenang.

Tempat ini memiliki fasilitas yang cukup, ada warung-warung penjual makanan, toilet dan kamar bilas juga ada. Masjid juga terletak tak jauh dari pantai. Dan yang paling penting di sini ada penjual kelapa muda hehehe. Kelapa muda dijual dengan harga yang sangat terjangkau yaitu sepuluh ribu rupiah saja, harga yang sama dengan biaya masuk yang dikenakan pada kami yaitu sepuluh ribu per orang.

Minum air kelapa muda di sini memberi kesan tersendiri karena rasanya yang manis segar, baik air maupun daging buahnya. Jarang-jarang saya menemukan kelapa muda sesegar ini tanpa harus ditambahkan es batu. Manisnya terasa bagai diberi gula namun tetap terasa sangat alami. Untung volume airnya banyak,dahaga saya lepas dan badan saya terasa segar.

Hari yang masih sore membuat kami tak menunggu hingga senja tiba di Tanjung Kasuari. Kami memilih mengambil arah pulang sambil mampir ke pasar tradisional. Entahlah, saya dan Indra memang selalu menyempatkan diri ke pasar tradisional setempat setiap singgah di suatu daerah. Selalu ada yang unik yang kita.temukan di pasar. Kultur kehidupan lokal, interaksi antar mereka, hingga buah-buahan, sayur dan dagangan unik setempat yang mungkin tak kita ditemukan di daerah lain.

Di Pasar Tradisonal Boswesen yang kami singgahi, saya menikmati bagaimana penduduk lokal menjajakan dagangannya. Unik karena kita masih menemukan minyak kelapa yang diproduksi secara tradisional,harganya juga tak mahal untuk ukuran khasiatnya yang didapat yaitu 20 ribu per botol kecil.

Dagangan lain yang tak kalah unik adalah gelondongan-gelondongan sagu. Dari kejauhan saya pikir itu adalah batang muda pohon kelapa karena berwarna putih. Namun mama penjual nan ramah menjelaskan secara detail keberadaan sagu-sagu tersebut, dari pemrosesan hingga jadi papeda.

Keberadaan tumpukan pinang yang dijual adalah pemandangan khas di Sorong. Hampir setiap sudut kota yang saya lalui banyak ditemukan penjual pinang. Hal ini dikarenakan kebiasaan penduduk setempat yang suka mengunyah pinang. Uniknya bila selama ini yang sering saya lihat kebiasaan mengunyah lebih banyak pada mereka yang berusia lanjut, di Sorong hal ini lazim terlihat bahkan pada anak-anak.

Kegiatan kami di pasar diakhiri dengan membeli kepala ikan Tuna yang dengan olahan dingin tangan Indra kemudian menjadi santapan makan malam kami bersama di rumah Kak Azizah. Rasanya? Jangan tanya! Pindang kepala ikan Tuna ditemani dengan terong penyet sambal membuat kami seolah tak ingin berhenti makan sebelum kekenyangan. Seru khan?

Sampai jumpa di catatan perjalanan aku berikutnya.

#AyoPelesiran ke Sorong

Salam Pelesiran!

«

»

22 COMMENTS

  • dinilint

    Wahhh,, satu lagi cerita dari Sorong yang bikin aku tambah pengen main ke Sorong.

    • Donna Imelda
      AUTHOR

      yuk, pelesiran ke Sorong

  • Alan

    cacing laut buat pengobatan juga ya mba..kukira itu kulit2 kayu gitu 😀

    • Donna Imelda
      AUTHOR

      biasanya ada khasiatnya memang,

  • Indra Pradya

    Aaahhhh jadi kangen Air KELAPA nya yang khas seperti diberi gula ituuuu – btw Aku juga kangen CiLok di Pasar itu lhoooo dan Kue kue yang beli Gibran hahahahaha kangeeennnnn

    • Donna Imelda
      AUTHOR

      banyak hal yang bikin kangen ya

  • Tetty Hermawati

    Ayo mbak ayo plesiran ke sorong. Heuheu. Kapan atuh aku diajak2 ke Indonesia Timur sama Mbak Dona. Mau banget mantai di sana.

  • April Hamsa

    Huwaaaa senangnya, benar2 menikmati alam ya mbak?
    Duh buah kelapanya bikin pengeeeenn 😀
    Pantainya kyknya udah lengkap fasilitasnya tapi tetep kayak “sederhana” gtu yaaa,apa ya istilahnya haha bingung nyebutnya.
    Moga kapan2 ada rezeki jg bisa ke sana 😀

  • ariefpokto

    Jadi Mbak Donna paling suka Pantai yang mana ? Pantai Tanjung Kasuari kayaknya paling maksimal ya.. jadi penasaran masakan nya Mas Indra deh haha

  • Eni Martini

    Aku dulu waktu SD punya sahabat orang menado-ambon tapi buyutnya Papua dan lahor di Sorong. Sering dia cerita keindahan Sorong, aku berapa kali dibawain oleh-oleh kuenya,jadi kangeeeen

  • Lia Lathifa

    Tanah tempat tumbuhnya pohob kelapa itu bagus banget berarti ya, buah dan air kelapanya sampai terasa manis. So beautifull place

  • Fajrin Herris

    Tante Inces, culik aku bawa ke Sorong.. 🙁

    Aku mupeng lihat pantai ini, rasanya ingin tinggal disini saja..

  • Dita Indrihapsari

    Nikmatnyaaa minum es kelapa di pinggir pantai.. Pantai-pantainya masih baguus banget ya mba keliatan sepi jadi bisa lebih menikmati suasananya.. Eh, aku penasaran pingin ngunyah pinang. Kayak apa ya rasanya.. 😁

  • Hani S.

    Masya Allah cantik banget pantainyaaa, damai lihatnya. Aku hamil kedua ini kebayang pantai terus, baru sekali kesampaian di usia kehamilan dua bulan pertama dan ingin mantai lagi tapi yang kayak gini indahnya, haha.

    Bumil banyak maunya ya.
    Ditunggu sharing berikutnya ya Mba :*

  • Nasirullah Sitam

    Liat buah pinangnya pengen nyomot. Hemmm kangen ngunyah pinang hahahhahaha

  • Kontengaptek

    Seru nih ngisi liburan di pantai..
    Ngadem dan minum kelapa disana tuh beda ama di rumah .. Hehe

  • Atisatya Arifin

    Aku pernah tuh nyobain cacing laut kering. Yang basah juga pernah waktu dulu masih kuliah dan ambil matkul ekologi kelautan (jadi kerjaannya ke pantai melulu). Mbak Donna nyobain nggak? Hehehe. Selalu terpana melihat keindahan pantai Indonesia, semoga kita semua bisa menjaga dan juga mengedukasi semua orang agar bisa menjaga keindahan alam Indonesia ya mbak.

  • Leyla Imtichanah

    Masya allah indahnya. Pantes mba donna pengen jalan terus ya. Aku pun rindu ke pantai.

  • SELVIANA SAEFULLOH

    Ku menyesal baca bagian tentang ‘kelapa’ nya nih Mbak. Jadi merasa haus banget sekarang hahahhahaha. Moga kelak ada kesempatan bermain ke sana. Aamiin.

  • Darius Go Reinnamah

    Pantainya dibagi ke dalam 3 bagian berbeda karena berada di daerah yg berbeda ya meskipun satu garis pantai?

    Bicara pinang jadi kangen papa. Dari saya kecio sampe besar, pinang selalu ada di rumah buat dia kunyah tiap hari. Ahahah

  • Hapsari Wulandari

    Wah seru yaa, Mbak, kalau bisa join KI luar Pulau Jawa. Semoga bisa segera kesampaian, hehe

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  • Pingback: Jejak Langkah di Raja Ampat - Ayo Pelesiran on July 22, 2018
    • Sometimes you just have to jump out the window and grow wings on the way down.
~Ray Badburry~
    • Merindu hidup tanpa sekat....
    • Quote ini klise banget sih tapi tetap jadi favorit aku, katanya gini,
. 
Life is like a camera. Just focus on what's important and capture the good times, develop from the negatives and if things don't work out, just take another shot.”
.
.
 As simple as that.
Yekan?!
    • Ini masa-masa gedumbrangan ketika secara maraton tahap demi tahap menuju sertifikasi dosen. Sudah lewat lama memang tapi spiritnya masih terasa.

Kebayang semua tahapan yang harus dijalani dengan rentang waktu yang pendek. Setiap akhir satu fase diikuti dengan perasaan dag dig dug apakah lolos atau tidak ke tahap selanjutnya.

Semangat pun berevolusi, dari skeptis gak bakal lulus karena  beberapa tahun terakhir saya malah asyik traveling, lalu masuk ke fase semangat menggebu harus lulus dan diakhir fase dengan spirit santuy, "lets do the best and God do the rest" Kalau lolos berarti rezeki, kalau gak lolos ya saya traveling lagi hahaha.

Fase paling sulit ya saat harus mengisi semua butir-butir essay yang jumlahnya puluhan dan harus diisi dengan angka minimal sekian ratus kata.  Yang dipikirin sih bukan hanya jumlah kata di setiap butirnya, tapi gimana merangkainya menjadi kalimat yang kalau para asesor itu membaca, ia yakin bahwa saya layak disertifikasi.

Saya lakukan semua dengan penuh apa adanya, saya menolak ide-ide short cut yg bertentangan dengan nurani saya, (biar enak terima duitnya) bahkan semua penilaian sejawat dan mahasiswa mereka lakukan sendiri, meski saya tahu toh sama saja dengan kalau saya isi sendiri pakai akun mereka, karena mereka juga akan memberikan penilaian yang baik buat saya. Tapi saya mau mereka yang lakukan sendiri.

Saya mengatakan dengan jujur bahwa saya kurang dalam publikasi ilmiah selama periode penilaian. Kegiatan penelitian pun  masih bersama mahasiswa, tapi saya melakukan banyak kegiatan di dunia pendidikan, hanya saja karena melalui volunteering saya tidak memiliki sertifikat apapun untuk membuktikannya. Mungkin mereka melihatnya ini adalah bentuk pengabdian masyarakat, entahlah. Untung saya rajin menulis kegiatan ini di blog pribadi, saya masukkan saja url link di setiap butir yang relate.

Saya tak tahu butir mana yang mengimbangi kelemahan saya di bagian penelitian dan publikasi ilmiah sehingga akhirnya sertifikat pendidik bisa di tangan saya dengan sebaris kalimat mengundang senyum di surat pengantar, LULUS!
    • Semalam ketawa2 sama anak gadis @hanifahdianti karena caption yang saya buat di Ig Story.  Caption  yang sama juga yang membuat @raninovariany ketawa melalui DM reply, dan wacana yang sama yang membuat saya dan @nettyamin ketawa2 lewat whatsapp call.

Emang bener sih, keputusan masuk doctoral program itu semacam gak ada kerjaan, lompat dari  kenyamanan lalu mencemplungkan diri ke dalam masalah alias cari-cari masalah.

Udah bener-bener asik dibayar untuk traveling, moto, nulis, malah milih ngabisin 3 hari weekend di kampus, berpening-pening sampe mual memahami metode riset, diberondong tugas yang bertubi-tubi dengan DL ketat, seketat tali bra. 
Itu belum termasuk melototin jurnal sampe mata dah kayak ikan mas koki supaya bisa menemukan novelty untuk bahan disertasi. Itu aja belum keliatan samsek hilalnya sampai sekarang hahaha. Benar2 menambah masalah hidup.

Tapi... ada tapinya kok. Percayalah, istilah "masalah" itu hanya gaya2an kalau lagi hectic sama tugas kampus. Pastilah ada manfaatnya belajar, pasti ada manfaatnya sekolah lagi. Sekarang aja udah mulai bisa memetik hal-hal kecil karena kesibukan baru itu. Minimal  memetik hikmah, jadi punya pengetahuan baru, punya banyak harapan baru, ide-ide baru yang bakal seru nantinya.

Santai aja soal ngetrip, tanah2 impian itu akan tetap ada di koordinatnya masing-masing, tapi momentum tidak demikian. Ia bergulir meninggalkan saya bila tak bersambut. Bagi saya saat mengambil keputusan sekolah lagi, ini memang adalah waktu yang tepat untuk sekolah. Momentum yang paling pas untuk naik ke tangga berikutnya setelah menunda rencana ini selama 5 tahun. (Iyaaa.... menunda selama itu hehehe)

Pikiran saya sederhana aja sih, traveling can wait. Bisalah sambil kuliah curi2 waktu untuk short trip atau traveling saat end year trip yang liburnya agak panjangan. Soal rezeki mah insya Allah ada aja dari pintu lain. Salah satu hikmahnya ya mungkin ini, saat semua harus freezing karena Covid-19, dan banyak rencana yang harus di-reset, saya merasa sudah on the right track meski #diRumahAja. Semoga fit in ya dengan rencana Allah.

So... mari kita selesaikan apa yang sudah kita mulai.
    • Bila Rindu

Tunggu aku di warung kopi itu ya, kita berbincang tentang banyak hal, tentang kita, tentang rindu, tentang hal yang hanya bisa disampaikan saat sua
    • Selamat ulang tahun sahabat kesayangan akuh,  my partner in crime,  my best navigator, my guardian angel, my soulmate, the best travelmate ever @nettyamin

Semoga Allah memberkahi umurmu,  memberimu sehat,  bahagia, sejahtera dan mengabulkan segala harapan dan doa.  Selamat dunia akhirat dan lancar segala urusan termasuk urusan perjodohan ya hehehe.  Aamiin

Selamay ulang tahuuuuuun, yeaaaaaaaaaay!!!
    • Alhamdulillah Jakarta hari ini cerah banget, berharap semoga Covid-19 gak betah di Indonesia.

Aku sih masih asik #diRumahAja, #WorkFromHome, nyiapin materi ngajar selang seling dengan ngerjain tugas kuliah, ngeriung sama anak gadis yg juga sibuk dengan kuliah daringnya. Kerasa sih makin siang makin hangat cuaca dan butuh yang segar-segar. Si kakak mah berasa pengen es kopi tapi aku pengen yang lebih segar yang non coffee.

Andalan pas karantina mandiri begini ya gofood lah atau pesan antar. Kali ini aku pesan minuman ke @cawankopi yang gak terlalu jauh dari rumah. Pilihannya banyak dan signature menunya semua menarik buat aku dan anak-anak.

Ssst tau gak kalau owner-nya ini mahasiswa Teknik Kimia lho, pantesan ada yang menarik saat pertama liat kemasannya. Aku sampe senyum liatnya,  selain logonya yang mengingatkan aku sama tabel periodik, plus nama-nama minumannya, ada Catalyst, Bacillus, Acuminata dan nama2 minuman lainnya yang familer dengan para penikmat kopi.

Siapa bilang anak teknik gak bisa berbisnis. Keren ya!

Sluuurrrpppp