Search here...
TOP
Destination

Java Overland 2018 – Sebuah Perjalanan Jiwa

Ketika ribuan kilometer bukan lagi sekadar jarak tempuh namun menjelma menjadi rangkaian cerita di antara ribuan momen yang tercipta ~ adofani 2018

Perjalanan yang kami beri tagar #adofanitrip dan #JavaOverland2018  ini memang terasa istimewa karena dilakukan tanpa rencana dan tanpa target. Rencana ini memang muncul begitu saja saat sepi mulai terasa karena sebagian besar keluarga dan tetangga sudah kembali ke kampung halamannya masing-masing, sementara libur panjang rasanya sayang bila dilewatkan begitu saja dan kami mulai bingung mau ngapain.

Keseruan sudah terbayang di pelupuk mata sejak ide itu muncul, apalagi selama ini kami begitu sulit mencari waktu untuk berlama-lama liburan sekeluarga. Saya sibuk dengan urusan pekerjaan, sementara anak-anak sebagian besar waktunya sudah tersita untuk urusan sekolah. Maka sensasional rasanya ketika perjalanan dirancang justru tanpa ada target berapa lama dan akan di kota mana saja kami akan singgah, pokoknya menghabiskan seluruh jatah libur lebaran 2018.

Begitu semangatnya kami sekeluarga melakukan perjalanan darat dengan menggunakan kendaraan pribadi ini hingga persiapan pun hanya dilakukan beberapa hari saja. Bagi saya dan suami yang penting mobil dalam keadaan fit dan keuangan memungkinkan untuk membiayai perjalanan ini. Soal barang bawaan menjadi mudah karena semua tinggal dimasukkan ke bagasi tanpa mikir akan repot atau kelebihan bagasi seperti perjalanan yang menggunakan pesawat terbang.

Sometimes a break from your routine is the very thing you need 

Kadang saya geli sendiri kalau saya mulai mengeluh kurang piknik, apalagi bila saya mengatakan pada mereka yang tahu betul pekerjaan saya sebagai travel writer yang dianggap gak mungkin kurang jalan-jalan. Padahal sesungguhnya ketika jalan-jalan itu adalah rutinitas dan bagian sebuah pekerjaan, maka sesungguhnya ada waktu saya mendamba sebuah perjalanan tanpa harus memikirkan hal-hal rutin yang biasa saya lakukan dalam perjalanan kerja.

Begitu juga anak-anak, kegiatan sekolah benar-benar telah menyita mereka selama 5 hari dalam seminggu, itupun kadang masih harus mengikuti kegiatan ekstra pada akhir pekan. Meski mereka menjalaninya dengan senang hati, namun bagaimanapun mereka perlu sesekali keluar dari rutinitas dan mengendurkan semua ikatan rutinitas.

Senang saja rasanya bisa menikmati macet seperti yang kami alami saat berangkat di Cikampek atau antrian panjang kendaraan karena bertemu dengan arus balik di Salatiga. Macet yang di Jakarta terasa begitu menyiksa menjadi waktu-waktu yang berkualitas untuk ngobrol hal-hal yang menyenangkan sambil sesekali bergurau atau sekadar mendengarkan musik dan bersenandung bersama dalam mobil.

Jika di Jakarta anak-anak harus bangun sepagi mungkin bahkan saat azan subuh belum berkumandang mereka harus sudah siap bersekolah, tidak demikian saat liburan. Saya sengaja tidak menargetkan destinasi-destinasi wisata di tiap kota yang kami singgahi. Mereka pun tidak menuntut demikian. Di Yogyakarta misalnya, kami memilih untuk lebih banyak bersantai dan bercengkrama di kamar hotel menikmati waktu luang.

A road trip is a way for the whole family to spend time together and annoy each other in interesting new places

Tak bisa dipungkiri, ada simpul-simpul yang longgar oleh kesibukan bersama selama di Jakarta. Liburan adalah waktunya untuk mengencangkan simpul-simpul yang longgar bahkan merajut simpul-simpul yang mungkin terlepas, terutama saya dengan pasangan. kadang kami bertengkar, adu argumentasi satu sama lain, bahkan kadang tak bertegur sapa. Kebersamaan saat liburan mengikat kembali yang terlepas.

Selama liburan, kami dan anak-anak tidur di kamar yang sama. Saya lebih suka memilih  hotel yang menyediakan kamar dengan ukuran luas dibanding harus membayar dua kamar meski dengan connecting door. Saya ingin kesempatan liburan kami lebih erat satu sama lain, berinteraksi lebih dekat, bercerita tentang apa saja, berdiskusi tentang banyak hal hingga rasanya tak ada yang tidak kami ceritakan lagi.

Selama perjalanan kami sepakat untuk lebih banyak meletakkan gadget dan melihat apa saja yang bisa kami temui selama perjalanan. Ternyata hal ini seru, terutama bagi anak-anak yang lebih banyak berada di Jakarta. Si adek misalnya yang baru pertama melihat rumah produksi batu-bata dan membayangkan itu seperti rumah-rumah zaman dulu di film-film sejarah atau bagaimana girangnya dia melihat serombongan bebek yang lagi asik berenang di sungai kecil. Sesederhana itu!

Saya merelakan dua kamera milik saya masing-masing dipegang oleh mereka. Ini jauh lebih baik daripada saya yang asik motret dan mereka justru asik dengan gadget hehehe. Saya lebih menikmati kedekatan kami berbincang soal obyek foto dan bagaimana mengambil foto yang bagus. Saya rela pulang dengan koleksi foto seadanya dan lebih bahagia memperhatikan mereka belajar motret dan membawa pulang kenangan momen-momen kebersamaan yang tercipta kerenanya.

Perjalanan Silaturahmi

Ada kebiasaan buruk saya selama menjadi pejalan terutama bila perjalanan yang terkait dengan pekerjaan atau liputan, saya jarang mengabarkan atau menemui kerabat dan kenalan di kota yang saya datangi. Pertimbangan terbesar sih karena biasanya waktu yang tersedia tak banyak sedangkan banyak yang harus saya kerjakan. Pertimbangan lainnya adalah saya tak ingin merepotkan mereka bila datang, khawatir disuruh menginap di rumah mereka.

Namun lagi-lagi perjalanan ini menjadi istimewa karena justru selama perjalanan, kami hampir selalu bertemu dengan kerabat atau kenalan di tiap kota. Di Pekalongan malah saya sempat menghadiri reuni 30 tahun teman-teman saya di masa menempuh sekolah menengah pertama. Terbayang ya serunya bisa bertemu dengan mereka lagi ketika sudah seumur segini hehehe.

Bagai sebuah keajaiban, tanpa sengaja saya bisa bertemu sepupu terdekat saya beserta keluarganya. Ah, rasanya gak percaya karena saya tak menyangka mereka sekeluarga kini telah tinggal di Semarang, sementara saya tahunya mereka masih tinggal di Pekanbaru. Anak-anak kami pun jadi saling kenal setelah sebelumnya nyaris tak saling kenal karena mereka berpisah ketika sama-sama masih batita. Bahagia banget, alhamdulillah ya. Berkah sebuah perjalanan.

Keajaiban itu tak cukup sekali, di Solo dan Yogya kami mendapat kejutan lainnya. Perjalanan di dua kota itu membuat saya bertemu dengan seorang teman dan istrinya, meski sebenarnya kami sama-sama tinggal di Jakarta, namun toh nyatanya kami tak pernah bertemu, terutama saya dengan istrinya. Alhasi, pertemuan kami tak hanya di Solo namun berlanjut hingga sempat lesehan bareng di Malioboro Yogyakarta. Jadi semacam kumpul dua keluarga yang liburan bersama.

Sementara di Yogyakarta, saya malah sempat memberi kejutan buat teman sebangku saya semasa sekolah dasar di Aceh yang kini menetap di Sleman, Yogyakarta. Kebayang khan bagaimana terkejutnya sahabat saya itu ketika tiba-tiba saya ada di depan mata dia menghadiri pesta pernikahan putra pertamanya setelah 35 tahun berpisah dan belum pernah bertemu wajah sekalipun. Untung saja saat itu suasana pesta, jadi kami masih bisa menahan diri atas luapan kegembiraan kami.

Semua itu belum termasuk pertemuan yang memang disengaja, seperti pertemuan dengan teman-teman sambil ngobrol dan kulineran bareng. Ya…, perjalanan ini tak ubahnya sebuah perjalanan silaturahmi, hal yang sulit sekali saya lakukan selama ini bila melakukan perjalanan. Padahal silaturahmi itu memiliki banyak keutamaan, bikin panjang umur dan mendatangkan rezeki. Ah, Donna….

Pembelajaran Sepanjang Perjalanan

Tak kurang dari 2000 kilometer, singgah di  lima  kota dan melewati puluhan kabupaten selama delapan hari kami road trip dari Jakarta. Seru, karena pada akhirnya kami tak hanya mengalami hal yang menyenangkan namun juga dapat mengambil banyak pelajaran dari hal-hal yang kami alami dan lihat selama perjalanan. Jadi benar apa yang dikatakan orang bijak bahwa perjalanan adalah sekolah kehidupan yang pelajarannya mungkin tidak kita dapatkan di dalam kelas.

Kami belajar bahwa merawat hubungan itu buahnya manis sekali, di tiap kota kami bertemu orang-orang yang sudah kami kenal lama namun hubungannya tetap baik, sehingga saat bertemu menjadi momen-momen yang menyenangkan. Saya menitipkan pesan pada anak-anak, sebuah kalimat bijak, bahwa jangan sampai kalian bertemu seseorang dan orang tersebut tidak merasa lebih baik karenanya. Jadikan setiap pertemuan berharga, seberapapun nilainya.

Perjalanan yang tanpa direncanakan membuat kami belajar untuk selalu berharap yang terbaik namun selalu siap untuk kondisi terburuk sekalipun. Misal saat peta digital di gawai kami membawa kami ke jalan-jalan kecil saat matahari sudah tergelincir di barat dan hari semakin gelap, sementara kami sama sekali tidak tahu arah yang benar menuju jalan utama ke Magelang. Kekhawatiran tersesat di negeri antah berantah tentu mulai menggelayuti kami hingga kemudian bertemu jalan utama.

Perjalanan go show dan booking hotel dadakan juga mengajarkan bahwa bahagia itu sesungguhnya kita yang cipta. Kami senyum-senyum saja ketika benar-benar sulit mendapatkan hotel di Pekalongan karena masih suasana lebaran kedua dan last minute hanya dapat satu kamar kosong. Itupun dapat kamar dengan luas hanya 17 meter persegi berisi dua tempat tidur berukuran kecil. Ya sudah, tidur dempet-dempetan berempat, mesraaaaa hahaha.

Kami juga belajar bahwa liburan bukan semata bersenang-senang dan berkunjung ke tempat-tempat wisata. Ada nilai edukasi yang bisa didapat, seperti Si kakak yang wanti-wanti banget harus ke sebuah tempat di mana dia bisa melihat bagaimana perubahan iklim, efek rumah kaca menyebabkan naiknya rob dan menghabiskan sebuah kampung. Miris memang, meski kemudian di sekitar tempat ini dibuat hutan edukasi mangrove.

Sebuah Jangkar Kebahagiaan, Harta Karun yang Bernama Kenangan

Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah renungan kecil. Bahwa apalah arti sebuah perjalanan bila kita tidak menjadi sosok yang lebih baik dari hari kemarin. Perjalanan menyajikan banyak hal yang bisa kita lihat, alami dan rasakan. Sebagian akan menjadi kenangan manis di hari esok dan sebagian lagi menjadi pelajaran untuk bekal langkah selanjutnya. Keduanya adalah harta karun kehidupan, yang membuat kita menjadi kaya karenanya, kaya pengalaman, kaya hati dan kaya jiwa

Bukan, memang bukan materi yang kita dapat, namun sesuatu yang saya sebut dengan sebuah jangkar kebahagiaan. Tempat kami menambatkan segala asa, tempat kami dan anak-anak jeda sejenak ketika kehidupan membuat kami penat. Tempat kami melihat kembali ke belakang, bahwa ada sesuatu yang indah yang pernah kita lewati sama-sama. Ada banyak jutaan momen berharga yang membentuk kita hari ini.

Jadi mengapa kita harus berhenti? Kehidupan harus bergerak maju, agar kita bisa menciptakan lebih banyak momen baru. Dan itulah harta karun kita sesungguhnya.

So…Take vacations! Go as many places as you can.

You can always make money, but You can’t always make memories.

 

Salam!

 

 

«

»

12 COMMENTS

  • Tetty Hermawati

    Jalan-jalan memang bukan hanya destinasi wisatanya, tapi bagaimana kita pun menuai hikmah di perjalanan, huwaa reuni setelah 30 thn keren banget itu mbak. Bisa nostalgia sambil liburan juga.

    • Donna Imelda
      AUTHOR

      iyaaaa, bener banget. Selalu ada hikmah dalam perjalanan termasuk bisa sekalian nostalgia dan liburan sama keluarga

  • Nunu Halimi

    Jadi teringat perjalanan dua tahun lalu, pernah juga Java overland tour sama anak-anak bablas sampai Bali. Tapi kami nggak sanggup PP mba, pulangnya saya naik pesawat sama anak-anak. Suami yang bawa mobil, lama banget sampai rumah, hehe.

    Reuni setelah 30 tahun, wow! Jangkar kebahagian banget itu mba, akan di kenang terus selamanya..

    • Donna Imelda
      AUTHOR

      Kami juga tadinya rencana sampai ke Jawa Timur, Malang. Tapi kemudian mikir baliknya pasti capek banget. Kalau kami terusin kayaknya bakal sama deh kejadiannya sama Nunu hahahaha

  • Nefertite Fatriyanti

    Saya orang Jawa yang selalu kangen Jawa, ahahaha. Sudah lama tidak berlama-lama nginep di Jogja, Solo, Semarang.
    Tahun ini kepengen bisa lama di Jogja juga Solo, mertua titipkan dulu, hehe

  • Leyla Imtichanah

    Waduuuh kalo Mba Donna kurang piknik, apalagi aku yaaaa…. wkwkwk… paling enak emang wisata edukasi jadi sekalian nambah ilmu.

  • Nurul Sufitri

    Waaah Setuju banget sama mb Donna ya kalau traveling itu bukan sekadar mengunjungi destinasi wisata tapi juga banyak pengalaman dan pelajaran berharga yg diperoleh.. Aku liburan kmrn jln2 ke Ambarawa dan Jogja bawa nyetir bergantian dg suami seruuuuuu deh. Sama2.. aku juga demen hotel yg 1 kamar family room ber4 sama anak biar bisa ngobrol2 😀😀😀

  • April Hamsa

    Seruuuu, jd pengen melakukan perjalanan keluarga jg, tapi kyknya pakai kereta aja hehe… Semi2 diplanning semi2 enggak gtu ya mbak, jadinya santai ya mbak, gak kejar target ke sana sini… TFS 😀

  • April Hamsa

    Tes

  • Eni Martini

    Perjalanan jiwa…aku kadi ingat perjalananku ke Baduy 18 tahun lalu, setiap perkalanan memang ada sesuatu yang kita jemput dan bawa pulang. Keren mb Donna masih terus bisa ngebolang

  • Elly Nurul

    Setuju Mba Dona, jika traveling sendiri tanpa keluarga saya merasa menjadi diri yang baru, banyak pengalaman baru dan teman baru sedangkan jika bersama keluarga, anak-anak menjadi lebih semangat, mereka antusias dan selalu menceritakan kembali kebahagiaan dan pengalaman mereka saat liburan.. liburan memang memiliki banyak manfaat ya Mba.. yuk terus maju, bergerak bersama

  • Ratna Amalia

    Bring memories with you, leave a footprint. Can’t agree more. Especially with our loved ones.

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  • Sometimes you just have to jump out the window and grow wings on the way down.
~Ray Badburry~
  • Merindu hidup tanpa sekat....
  • Quote ini klise banget sih tapi tetap jadi favorit aku, katanya gini,
. 
Life is like a camera. Just focus on what's important and capture the good times, develop from the negatives and if things don't work out, just take another shot.”
.
.
 As simple as that.
Yekan?!
  • Ini masa-masa gedumbrangan ketika secara maraton tahap demi tahap menuju sertifikasi dosen. Sudah lewat lama memang tapi spiritnya masih terasa.

Kebayang semua tahapan yang harus dijalani dengan rentang waktu yang pendek. Setiap akhir satu fase diikuti dengan perasaan dag dig dug apakah lolos atau tidak ke tahap selanjutnya.

Semangat pun berevolusi, dari skeptis gak bakal lulus karena  beberapa tahun terakhir saya malah asyik traveling, lalu masuk ke fase semangat menggebu harus lulus dan diakhir fase dengan spirit santuy, "lets do the best and God do the rest" Kalau lolos berarti rezeki, kalau gak lolos ya saya traveling lagi hahaha.

Fase paling sulit ya saat harus mengisi semua butir-butir essay yang jumlahnya puluhan dan harus diisi dengan angka minimal sekian ratus kata.  Yang dipikirin sih bukan hanya jumlah kata di setiap butirnya, tapi gimana merangkainya menjadi kalimat yang kalau para asesor itu membaca, ia yakin bahwa saya layak disertifikasi.

Saya lakukan semua dengan penuh apa adanya, saya menolak ide-ide short cut yg bertentangan dengan nurani saya, (biar enak terima duitnya) bahkan semua penilaian sejawat dan mahasiswa mereka lakukan sendiri, meski saya tahu toh sama saja dengan kalau saya isi sendiri pakai akun mereka, karena mereka juga akan memberikan penilaian yang baik buat saya. Tapi saya mau mereka yang lakukan sendiri.

Saya mengatakan dengan jujur bahwa saya kurang dalam publikasi ilmiah selama periode penilaian. Kegiatan penelitian pun  masih bersama mahasiswa, tapi saya melakukan banyak kegiatan di dunia pendidikan, hanya saja karena melalui volunteering saya tidak memiliki sertifikat apapun untuk membuktikannya. Mungkin mereka melihatnya ini adalah bentuk pengabdian masyarakat, entahlah. Untung saya rajin menulis kegiatan ini di blog pribadi, saya masukkan saja url link di setiap butir yang relate.

Saya tak tahu butir mana yang mengimbangi kelemahan saya di bagian penelitian dan publikasi ilmiah sehingga akhirnya sertifikat pendidik bisa di tangan saya dengan sebaris kalimat mengundang senyum di surat pengantar, LULUS!
  • Semalam ketawa2 sama anak gadis @hanifahdianti karena caption yang saya buat di Ig Story.  Caption  yang sama juga yang membuat @raninovariany ketawa melalui DM reply, dan wacana yang sama yang membuat saya dan @nettyamin ketawa2 lewat whatsapp call.

Emang bener sih, keputusan masuk doctoral program itu semacam gak ada kerjaan, lompat dari  kenyamanan lalu mencemplungkan diri ke dalam masalah alias cari-cari masalah.

Udah bener-bener asik dibayar untuk traveling, moto, nulis, malah milih ngabisin 3 hari weekend di kampus, berpening-pening sampe mual memahami metode riset, diberondong tugas yang bertubi-tubi dengan DL ketat, seketat tali bra. 
Itu belum termasuk melototin jurnal sampe mata dah kayak ikan mas koki supaya bisa menemukan novelty untuk bahan disertasi. Itu aja belum keliatan samsek hilalnya sampai sekarang hahaha. Benar2 menambah masalah hidup.

Tapi... ada tapinya kok. Percayalah, istilah "masalah" itu hanya gaya2an kalau lagi hectic sama tugas kampus. Pastilah ada manfaatnya belajar, pasti ada manfaatnya sekolah lagi. Sekarang aja udah mulai bisa memetik hal-hal kecil karena kesibukan baru itu. Minimal  memetik hikmah, jadi punya pengetahuan baru, punya banyak harapan baru, ide-ide baru yang bakal seru nantinya.

Santai aja soal ngetrip, tanah2 impian itu akan tetap ada di koordinatnya masing-masing, tapi momentum tidak demikian. Ia bergulir meninggalkan saya bila tak bersambut. Bagi saya saat mengambil keputusan sekolah lagi, ini memang adalah waktu yang tepat untuk sekolah. Momentum yang paling pas untuk naik ke tangga berikutnya setelah menunda rencana ini selama 5 tahun. (Iyaaa.... menunda selama itu hehehe)

Pikiran saya sederhana aja sih, traveling can wait. Bisalah sambil kuliah curi2 waktu untuk short trip atau traveling saat end year trip yang liburnya agak panjangan. Soal rezeki mah insya Allah ada aja dari pintu lain. Salah satu hikmahnya ya mungkin ini, saat semua harus freezing karena Covid-19, dan banyak rencana yang harus di-reset, saya merasa sudah on the right track meski #diRumahAja. Semoga fit in ya dengan rencana Allah.

So... mari kita selesaikan apa yang sudah kita mulai.
  • Bila Rindu

Tunggu aku di warung kopi itu ya, kita berbincang tentang banyak hal, tentang kita, tentang rindu, tentang hal yang hanya bisa disampaikan saat sua
  • Selamat ulang tahun sahabat kesayangan akuh,  my partner in crime,  my best navigator, my guardian angel, my soulmate, the best travelmate ever @nettyamin

Semoga Allah memberkahi umurmu,  memberimu sehat,  bahagia, sejahtera dan mengabulkan segala harapan dan doa.  Selamat dunia akhirat dan lancar segala urusan termasuk urusan perjodohan ya hehehe.  Aamiin

Selamay ulang tahuuuuuun, yeaaaaaaaaaay!!!
  • Alhamdulillah Jakarta hari ini cerah banget, berharap semoga Covid-19 gak betah di Indonesia.

Aku sih masih asik #diRumahAja, #WorkFromHome, nyiapin materi ngajar selang seling dengan ngerjain tugas kuliah, ngeriung sama anak gadis yg juga sibuk dengan kuliah daringnya. Kerasa sih makin siang makin hangat cuaca dan butuh yang segar-segar. Si kakak mah berasa pengen es kopi tapi aku pengen yang lebih segar yang non coffee.

Andalan pas karantina mandiri begini ya gofood lah atau pesan antar. Kali ini aku pesan minuman ke @cawankopi yang gak terlalu jauh dari rumah. Pilihannya banyak dan signature menunya semua menarik buat aku dan anak-anak.

Ssst tau gak kalau owner-nya ini mahasiswa Teknik Kimia lho, pantesan ada yang menarik saat pertama liat kemasannya. Aku sampe senyum liatnya,  selain logonya yang mengingatkan aku sama tabel periodik, plus nama-nama minumannya, ada Catalyst, Bacillus, Acuminata dan nama2 minuman lainnya yang familer dengan para penikmat kopi.

Siapa bilang anak teknik gak bisa berbisnis. Keren ya!

Sluuurrrpppp