Search here...
TOP
FEATURED

Rizka Farah Diba Dianti Nama itu  kami sematkan 8 tahun yang lalu, 27 Mei 2001 pada sosok bayi perempuan dengan berat tubuh 3.0 kilogram yang baru saja lahir di Rumah Sakit Haji Pondok Gede Jakarta. Rizka yang berarti rezeki merupakan nama pemberian neneknya  sebagai ganti sebuah cerita penantian 4 tahun hadirnya bayi mungil…

  • Untuk perempuan yang tingkat kecemasannya tingggi terutama di masa pandemi, #DiRumahAja itu udah paling bener deh. Saya nyaris tak pernah merasa bosan namun ya gitu deh ada rasa  tak nyaman juga karena selalu dikurung rasa cemas terhadap daya tular virus C-19 ini.

Sampai suatu hari saya berpikir, harus mengerjakan hal baru dan mengalihkan perhatian dari pandemi yang seolah tak berujung ini. Maka ketika Trubus dekat rumah saya sudah buka kembali, saya langsung beli beberapa bibit dan pot serta media tanam.

Honestly saya tak pandai bercocok tanam, tak juga telaten mengurusi tanaman. Tapi kesibukan dan keasikan memperhatikan tanaman-tanaman ini bertumbuh ternyata mengasikkan. Pagi dini selepas sholat subuh saya sudah bersiap membuka jendela teras atas tempat tanaman2 itu saya kumpulkan, lalu asik menyemai, bongkar pasang tanaman, pindah2in, menyirami, menyiangi, menjemurnya dan memperhatikan detail pertumbuhannya.

Hal ini bisa sampai matahari naik baru selesai. Diselingi sarapan atau bermain dengan anak-anak kucing lucu liar penghuni teras atas. Atau sekadar selonjor baca buku, menyimak timeline dan bermain-main dengan lensa kamera ponsel mengabadikan pertumbuhan tanaman.

Aktivitas di teras atas biasanya ditutup dengan menjemur diri supaya raga juga tetap sehat, sampai berkeringat, baru kemudian masuk lagi ke rumah, mandi dan mengerjakan kerjaan kampus atau melanjutkan proposal disertasi yang belum kelar-kelar juga hehehe.
  • 29 tahun bareng, keknya No need caption.
Anggap aja ngerapihin feed xixixi
Ditoyor @nettyamin sama Mpok Tie
  • Di banyak masa, seringkali saya jatuh cinta pada suatu tempat sedemikian rekat hingga tak ragu berlama-lama di sana atau datang kembali ke tempat yang sama.

Saat Corona hadir, sempat terpikir alangkah damainya mereka yang jauh dari hiruk pikuk kota, bermesra dengan alam dan memenuhi kebutuhan hidup dari lingkungan sekitarnya. Namun entahlah, saya sudah terbentuk lama hidup dalam ingar bingar sebuah kota dengan segala dinamikanya. Sehingga seberapapun indah dan damainya sebuah tempat, saya selalu merindukan Jakarta, selalu merindukan aktivitas yang puluhan tahun saya lakoni termasuk segala hiruk pikuknya.

Dulu saat mudik masih menjadi rutinitas setiap tahun, atau saat long trip lebih dari satu minggu, saya selalu dapat menandai bioritmik tubuh saya di hari ke-7 atau 8  yang rindu keseharian Jakarta yang seolah senantiasa bergegas. Saya merindu bangun dini pagi, melaju di atas roda, membelah ibukota dan kembali ke rumah saat mentari telah rebah di peraduannya. Malam adalah rangkuman jejak langkah seharian dan sejumlah rencana esok hari.

Semua berubah kini menuju era baru yang entah apa namanya. New Normal kata orang-orang. Tak ada pagi buta di jalan raya, atau berpanjang-panjang menuju gerbang tol. Tadinya aku pikir ini sementara saja. Tapi sepertinya tidak. Meski dengan izin-Nya pandemi ini mungkin berlalu pada waktunya. Namun hidup tak akan berjalan mundur kembali ke titik semula.

Selamat datang era baru...
  • Selamat ulang tahun @rizkafarah27, ini ada catatan Bunda tentang kamu tahun 2009. Sebelas tahun yang lalu, di usia ke-8 tahun. Gak kerasa banget eh sekarang udah ultah ke-19. Tahun depan insyaa Allah udah gak teenagers lagi lho ya hahaha.

Tak banyak yang berubah, seorang Diba tetap dengan karakter yang dibawa sejak lahir. Bedanya sekarang udah lebih gede dan mature, dan ternyata lebih cenderung introvert. Tetap jagoan Bunda yang manis hatinya, meski gayanya maskulin tapi hatinya mudah sekali tersentuh. Jadi ingat Bunda @nettyamin yang "body sih Rambo tapi hati mah Rinto" hahaha.
Sekarang udah kuliah, sahabat Bunda yang paling jago puk puk kalau bunda resah dan  paling tau gimana managing bundanya yang OCD ini hahaha. Temen diskusi yang asik dan suka ajaib dengan argumen-argumennya.

Semoga Allah limpahkan umur yang berkah ya, Nak. Senantiasa Allah jaga dalam sehat dan taat. Takut sama Allah semata, lancar studinya, tercapai citanya dan jadi hamba yang rendah hati, berilmu dan bermanfaat bagi umat.

Doa Bunda selalu

Lembah Nirmala, 27 Mei 2020
  • Instagram Image
  • Saya menyadari satu hal sore ini ketika mendapat pesan gambar dengan kalimat seperti pada postingan ini. 
Ya, setelah #diRumahAja selama hampir 100 hari, saya menyadari kondisi seperti inilah adanya. "We are not all in the same boat, but we are in the same storm" Jelas saja reaksinya berbeda, cara menghadapinya berbeda, tingkat kecemasannya berbeda.

Di awal-awal pandemi ini saya sempat kesal dengan salah satu teman yang sibuk bilang supaya kita gak panik, gak posting yang negatif soal C-19 tapi dia gak sadar cara dia menganjurkan jauh lebih berisik dan lebih bikin panik. Lha segala link yang meski katanya berita positif dia share secara masif. Persis kayak orang teriak-teriak di atas kapal mau karam yang didalamnya orang sedang panik.

Lain lagi teman saya yang satunya, saat saya bicara soal lockdown, dia komentar dengan nada mengejek mempertanyakan dengan pilihan kata yang nyelekit. Untuk ukuran pertemanan kami, di saat saya masih berusaha mencerna apa yang terjadi, sungguh ini suatu reaksi yang menggores hati.

Di lain hari, teman saya lainnya, memiliki pandangan yang berbeda dengan saya soal kebijakan pemerintah untuk menghadapi pandemi ini. Bagi saya yang ambang kecemasannya sangat rendah, saya salut ia berani dan tangguh menghadapinya, meski bisnisnya tersungkur habis tak bergerak selama pandemi. 
Ia tahu bagaimana cemasnya saya, bahkan bisa meraba tingkat stress saya selama sebulan pertama dan masih tersisa hingga sudah berjalan selama 3 bulan. Tapi toh ia tak pernah menghakimi saya atau orang-orang seperti saya dengan kalimat tajam "emang loe bisa kasih makan orang-orang kalau mereka gak kerja"

Sebaliknya saya juga gak perlu menghakimi ia yang masih keluar rumah dan melakukan berbagai cara untuk bertahan hidup sambil mengkritisi berbagai hal di negeri ini. Kami berbeda, tapi kami tetap saling respek. Saya juga mengkritisi banyak hal yang mungkin diambil oleh teman-teman saya, tapi saya tak pernah menyerang secara personal apalagi terbuka. Ciptakan ruang yang kita bisa asik duduk untuk berdiskusi tanpa harus saling serang.

Karena bagaimanapun, meski kita menghadapi badai yang sama, kita semua tidak berada di kapal yang sama.

Look inside, and focus!
  • 1 Syawal 1441 H

Untuk pertama kalinya selama 23 tahun menikah. 
Lebaran kali ini di rumah aja
Lebaran kali ini menghidang meski teteup ya masakannya bikinan mama dan kakak ipar
Lebaran kali ini ayah yang jadi imam sholat kami para perempuan di rumah dan bacain khutbah, gak di lapangan berjamaah reramean

Lebaran kali ini,
Semua memang gak seperti biasa dan semua mungkin tak akan pernah sama lagi, tapi aku percaya semua hal nantinya akan menemukan bentuk baru dan kita akan terbiasa. Yang penting sehat mental dan sehat raga.

Insyaa Allah bahagia tak berkurang dan sangat mensyukuri semua hal dalam kondisi seperti hari ini.  Masih bertemu 1 Syawal dalam keadaan sehat, masih bisa makan ketupat, masih bisa ketawa-ketawa silaturahmi lewat video call dengan papa mama, kakak adik,  mertua dan ipar-ipar. Keadaan mungkin memisahkan raga tapi tetap menyatukan jiwa-jiwa yang saling merindu.

Selamat mensyukuri hari nan fitri ini, semoga apa yang kita perjuangkan selama Ramadan menjadi amalan yang diterima, semoga apa-apa yang kita sedekah dan doakan akan menjadi perisai kita hidup selama pandemi. Semoga segala insyaf dan segala kesulitan dalam penerimaan takdir ini menjadi penggugur dosa-dosa kita.

Minal aidin wal faizin
setelah berperang kita menang.

Mohon maaf lahir batin

Lembah Nirmala, 24 Nei 2020
  • What you believe, you receive!