Search here...
TOP
Volunteering

Selamat Datang di Ruang Berbagi Ilmu – RUBI 2018

Kick Off Meeting Ruang Berbagi Ilmu-RUBI 2018 menjadi agenda istimewa yang tak ingin saya tinggalkan di Sabtu, 7 Juli 2018 kemarin. Ada rindu dan penasaran yang saya bawa ke Menara BTPN lantai 26 tempat acara ini berlangsung, hari di mana saya akan bertemu lagi dengan teman-teman penggerak RUBI dan sekaligus bertemu pula untuk pertama kalinya dengan panitia RUBI 2018 yang baru.

Selamat Datang di Keluarga Besar RUBI 2018

Acara ini tentu saja bukan sekadar pertemuan dan perkenalan keluarga besar RUBI 2018, namun sekaligus menjadi kegiatan pembekalan sebelum panitia ini bertugas di divisi masing-masing dan menjalankan tugas dan tanggungjawab pelaksanaan kegiatan RUBI 2018. Total ada 84 orang panitia yang tersebar di 8 divisi yaitu, Divisi Acara, Divisi Keberlanjutan, Divisi Rekrutmen, Divisi Bonding, Divisi Dokumentasi, Divisi Jejaring Perusahaan, Divisi Website dan Divisi Sosialisasi. Jumlah itu belum termasuk mereka yang bertugas sebagai Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah dan Wali Kelas masing-masing Divisi

Ada tujuh daerah yang akan menjadi tempat penyelenggaraan RUBI 2018 ini, yang membentang dari bagian Barat Indonesia hingga ke Timur, yaitu Aceh Barat Daya, Kabupaten Jombang. Kabupaten Kupang, Pulau Sumba,Pulau Raijua, Maluku Barat Daya, dan Kabupaten Kepulauan Yapen di Papua. Entahlah saya selalu semangat setiap mengetahui daerah penyelenggaraan RUBI setiap tahun dan selalu antusias untuk ikutan

Sekilas RUBI

Ruang Berbagi Ilmu yang sering disingkat dengan RUBI telah ada sejak tahun 2015, namun di usianya yang belia, tak kurang dari 48 daerah di Indonesia telah menjadi tempat penyelenggaraan gerakan kerelawanan ini. RUBI mengajak masyarakat untuk terjun langsung dalam usaha peningkatan kualitas penggerak pendidikan di seluruh Indonesia baik sebagai narasumber maupun dokumentator. Bentuk kegiatannya berupa pelatihan-pelatihan semacam training for trainers. Relawan yang direkrut nantinya akan menjadi narasumber bagi peserta atau penggerak pendidikan di daerah yang nantinya diharapkan akan meneruskan ilmu yang didapat dari pelatihan kepada sejawatnya.

Ada banyak materi yang telah disampaikan RUBI selama ini seperti, Metode Belajar Kreatif,Metode Belajar Anak Berkebutuhan Khusus, Brain Base Teaching, Motivasi Guru,Trauma Healing, Multiple Intelligences, Manajemen Keuangan Sekolah, Manajemen Kepemimpinan, Volunteering as a Life Style dan lain lain. Nah, relawan narasumber inilah yang akan memberikan materi-materi sesuai kebutuhan di daerah tempat penyelenggaraan.Tak semua materi tersebut disampaikan di setiap tempat, karena setiap daerah punya permasalahan dan kebutuhan yang berbeda satu dengan lainnya.

Sebuah Kerelaan hati

Sebagaimana sebuah gerakan kerelawanan, kegiatan ini memang harus dilakukan dengan banyak kerelaan atas semua pengorbanan yang kelak harus dihadapi. Kami kadang menyebutnya dengan istilah iuran, yaitu iuran kehadiran, iuran tenaga, iuran pikiran, iuran waktu dan termasuk iuran biaya. Seluruh relawan yang terlibat tak satupun dibayar, bahkan mengeluarkan biaya sendiri dan secara mandiri menyiapkan segala sesuatunya, termasuk menghadirkan diri ke tempat yang mungkin sangat jauh dari tempat tinggal mereka hingga ke pelosok-pelosok negeri ini tanpa merasa dipaksa atau dipaksa.

Jangan tanya pengorbanan apa saja yang harus dihadapi para relawan terutama ke daerah-daerah yang akses transportasi dan fasilitas akomodasi yang sangat minim. Dari yang terombang-ambing di laut karena cuaca buruk, sarana mck yang “horor”, jalan kaki berjam-jam karena harus masuk hutan dan bela-belain uang tabungan untuk tiket ke daerah. Ah pokoknya akan menghabiskan kertas berlembar-lembar untuk menuliskan pengorbanan apa saja yang harus dijalani dan tantangan apa yang harus dilewati, namun kenyataannya toh begitu banyak relawan yang tidak pernah merasa kapok untuk ikut dan ikut lagi.

Saya tak tahu alasan setiap orang yang tak pernah kapok ini, setiap tahun berangkat, di tahun yang sama bisa lebih dari satu tempat. Namun saya percaya bahwa semua pengorbanan tersebut terbayarkan meski bukan dalam bentuk uang atau material. Ada kegelisahan yang terurai di sana, ada rindu yang terjawab di sana dan ada kebahagiaan yang tak terdefinsikan bisa menjadi bagian mereka yang terjun langsung ke daerah-daerah penyelenggaraan dan melihat langsung kondisi pendidikan di sana.

Ini bukan sekadar datang dan melihat-lihat bagus atau tidaknya sekolah mereka dan menghitung berapa banyak siswa yang bersekolah di sana. Atau bukan sekadar kegiatan senang-senang sambil jalan-jalan. Bahwa ada yang bisa kita bawa buat mereka, menambah pengetahuan dan informasi, membantu para penggerak pendidikan, bapak dan ibu guru dan membuat anak-anak di sana dapat belajar dengan lebih menyenangkan dan kreatif dengan segala keterbatasan yang ada.

Mau Belajar dan Rendah Hati

Satu hal yang membuat saya tak pernah mampu meninggalkan dunia kerelawanan adalah karena lingkungannya yang sangat positif. Di tengah hiruk pikuknya dunia politik,carut marutnya informasi dan sikap individual yang semakin meraja, saya tak menemukan mereka-mereka yang hadir di RUBI untuk kepentingan dirinya apalagi kepentingan politik. Kalaupun ada, yang seperti ini akan terseleksi secara alamiah dan akan menghilang dengan sendirinya.

Begitu banyak orang-orang hebat dengan latar belakang pendidikan tinggi, profesional dengan karir yang cemerlang atau anak-anak muda yang berprestasi yang terlibat dalam kegiatan RUBI. Namun dalam kegiatan ini saya melihat mereka memperlakukan dirinta satu sama lain semua sama hebatnya, semua sama pentingnya, tak ada yang perlu merasa superior atau inferior. Sikap mau belajar dan rendah hati memang diperlukan untuk bisa bersama-sama bersinergi dan berkolaborasi.

Meski kompetensi tetaplah diperlukan, namun tantangan menjadi relawan RUBI memang lebih terasa bagaimana kita mampu bersikap dan mengelola ego. Itulah mengapa ada 6 sikap dasar yang harus dimiliki oleh setiap relawan, yaitu tulus, mandiri, siap belajar, bebas kepentingan, siap kolaborasi dan terjun langsung. Kompetensi bisa dikejar dengan sikap siap belajar, lepaskan segala atribut diri dan kepentingan, lalu siap terjun langsung dengan mandiri dan tulus hati mencapai goal bersama.

Semua akan manis nanti

Secara pribadi ada yang saya suka dari RUBI. Kegiatan ini menempa saya untuk lebih tangguh menghadapi ketidakpastian, baik cuaca, kondisi tempat menginap, kondis tempat mengajar hingga kondisi pesertanya. Untuk pribadi seperti saya yang betah dalam comfort zone, segala sesuatunya harus terencana dan terantisipasi. Namun RUBI mengajarkan saya untuk siap terhadap sesuatu yang terjadi di luar rencana, menurunkan ekspektasi dan menjalaninya dengan sikap easy going.

Jangan berharap panitia lokal memfasilitasi kebutuhan dan keinginan kita, secara mandiri kita yang bertanggug jawab untuk semua keperluan kita. Panitia sulit menyediakan akomodasi, maka bersiaplah untuk mencari hotel atau penginapan sendiri, termasuk saran transportasi. Relawan bukan pejabat yang sedang kunjungan yang berharap akan dijemput dan difasilitasi selama di sana, juga bukan turis yang dengan uang bisa mendapatkan semua yang diinginkan.

Harus siap mental juga sih. Seperti saat dapat sopir trans Sumatera yang biasa nyetir bis atau truk antar kota antar propinsi yang caranya mengemudi membuat saya sport jantung selama perjalanan dari Bandar Lampung ke Kabupaten Tulang Bawang Barat baik pergi maupun pulang. Pernah juga mental dipaksa harus siap berjalan kaki malam hari dalam gelap dan dingin setelah hujan, dalam keadaan sepatu basah dan gak pakai jaket gara-gara ketinggalan angkutan umum saat bertugas di Pegunungan Bintang, Papua.

Tapi apalah semua pengorbanan bila semua terlewati dan terasa manis dikenang kini. Semua iuran akan kembali dalam bentuk yang tak bisa dikonversi dengan uang, karena di setiap pengalaman ada cerita yang tak bisa dibeli dengan uang,

so… gimana? siap bergabung dengan Keluarga Besar RUBI 2018? cari info lebih lanjutnya di laman resmi Ruang Berbagi Ilmu ya, atau akun media sosial mereka di Twitter dan Instagram RUBI.

selamat bergabung

»

what do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  • No Caption...
📷 by @tutyqueen
  • Jadi mari kita posting edisi lengkap sebelum dikutuk jadi Donna Kundang hahaha.
Colek @teguhsudarisman @syaifuddin1969

Ceritanya begini,
perempuan banyak mau kek saya emang pengen aja tau banyak hal, belajar banyak hal, bahkan untuk hal2 yang katanya untuk generasi millenial.

Bagi saya ilmu tak mengenal umur, walau mungkin bukan buat saya tapi ilmu tak pernah kadaluarsa, bisa saya bagikan lagi buat anak-anak saya, buat mahasiswa2 saya dan buat orang2 yang ingin belajar.
Bukankah sebaik2nya ilmu adalah ilmu yang diamalkan.

Makasih Mastah @teguhsudarisman sharing ilmunya hari ini meski bikin rambut saya keriting manjah hahaha. Gak cukup cuma hari ini pokoknya ya, sampai jumpa di the best place in town versi Lunette ya hahaha
  • Jarang2 ngumpul dengan sepupu-sepupu. Untung belum dicoret dari daftar keluarga hahaha
  • Anteng sambil belajar di kubikel nungguin bunda ngajar.
  • Alhamdulillah....
  • Kulit kering dan tumit pecah-pecah itu bagi saya bukan hanya sekedar mengganggu penampilan namun juga mengganggu aktivitas karena jadi tidak nyaman digunakan berjalan.

Kulit tumit yang menebal dan pecah-pecah sering kali terasa mengganggu saat bergesekan dengan pakaian atau kaos kaki, menimbulkan rasa gatal dan akhirnya jadi ditarik-tarik deh kulit yang kering itu.
Nah kejadiannya sih akhirnya jadi luka dan menimbulkan rasa perih dan sakit ketika dipakai berjalan. Gak banget khan.

Gimana cara aku ngatasinnya dengan Sato Pastaron? 
baca pengalamanku di sini yaaa.

http://donnaimelda.com/kulit-kering-dan-tumit-pecah-pecah-ternyata-gampang-mengatasinya/

Oh ya, di foto kedua ada foto perbandingan sebelum pemakaian dan sesudahnya. Keliatan dan kerasa banget bedanya makanya aku mau terusin sampai betul2 mulus lagi. Haseeek

#satopastaroncream #solusitumitpecah #aeonmalljakartagardencity
  • Ketika rumah sepi, semua dah berangkat.Keisengan pagi ini diisi bikin video gegara kesengsem sama Keluarga Cemara dan terinspirasi sama videonya Mas @ekasumadji hehehe. Thanks, Mas...
  • Jalan Allah yang membuat saya akrab dengan julukan travel blogger. Padahal meski traveling dan berpindah kota menjadi bagian hidup saya sejak kecil, saya tak pernah bermimpi hingga sejauh ini.

Memilih profesi sebagai dosen waktu itu pun sepertinya the one and only, dan gak pengen punya profesi lain apalagi sampai keluar dari institusi di mana saya tumbuh selama 18 tahun.

Tapi hidup memang bukan kita sutradaranya, ketika dengan cara-Nya Tuhan menghadirkan dunia lain tempat saya membangun kurva kedua, saya mensyukurinya sebagai anugerah yang luar biasa. Karena sejak itulah saya berani keluar dari zona nyaman, berani membuka satu per satu pintu petualangan baru dan menikmatinya sambil mengatakan, "oh ternyata saya bisa kok melakukannya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat"

Lalu ke mana langkah kaki setelah ini, langkah di tahun 2019.  Sejauh apa langkah akan dibawa. Kembali ke zona nyaman yang mulai menggoda rasa malas untuk bermanja, atau membangun kurva baru lagi yang lebih menantang hingga ke puncak di usia segini?

Kurva ketiga? Are you sure, Na?!